.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Melarang tapi Menyuruh

Selama pendidikan, siswa dilarang merokok. Begitu aturannya.  Namun namanya anak muda, ada saja yang berani melanggar.

melarang tapi menyuruh

Saya lebih curiga alasannya bukan pada anak muda, tetapi karena mereka sudah terlalu kangen merokok dan tak bisa menahan diri ditambah lagi ada kesempatan. Urusan melanggar peraturan di negeri saya dilakukan tidak hanya oleh anak muda saja, tidak sedikit juga orang tua yang berperan aktif dalam melanggar peraturan.

Apesnya, lima kawan saya yang mencuri-curi kesempatan untuk merokok ini ketahuan oleh petugas. Singkat cerita, mereka dihukum di depan kawan-kawannya. Dihukum agar mereka jera, agar kami yang menyaksikan tidak ikut-ikutan melanggar peraturan.

Karena termasuk pelanggaran berat, hukumannya pun juga berat. Berat di fisik, berat di mental, berat di psikis. Yang merokok 5 orang, tapi semua teman yang tidak ikut merokokpun dijemur sambil jongkok hampir satu jam. Kami ikut kena apes.

“Lihat tuh, gara-gara kesalahan kalian, kawan-kawan kalian ikut menderita” Kira-kira begitu hukuman psikisnya.

Di antara hukuman itu, ada jenis hukuman yang mengganjal dalam benak saya. Lima kawan saya ini dihukum dengan disuruh merokok 2 batang sekaligus dalam waktu singkat di depan kami. Mereka terlihat seperti kelinci yang dua giginya keluar. Bedanya, gigi panjang itu berupa batang rokok yang asapnya mengepul, dan dengan cepat asap2 itu keluar dari hidung mereka

Apa yang mengganjal bagi saya?

Mereka dilarang merokok, tapi malah dihukum dengan disuruh merokok, dua batang sekaligus pula. Ini jelas merupakan bentuk ketidakkonsistenan.

Saya jadi teringat dengan guru biologi yang mengajar saya waktu SMP dulu. Beliau perokok berat, sebelum masuk kelas beliau matikan dulu rokoknya.

“Saya jadi perokok berat seperti ini gara-gara guru SMK dulu. Orang yang pertama saya salahkan adalah guru SMK saya itu.”

Beliau dulu sekolah di SMK (anehnya jadi guru biologi) , beliau ketahuan merokok dan hukumannya mirip dengan kasus teman saya. Bedanya guru saya ini disuruh menghabiskan rokok satu bungkus sekaligus.

Hukuman yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa hukuman itu berupa larangan penyebab hukuman itu. Misalnya dilanggar melewati lampu merah, kalau ketahuan dihukum untuk melewati lampu merah 2 kali. Itu kan tidak lucu dan tidak logis.

Semoga para pendidik lebih cerdas dalam memberi hukuman. Entah itu pendidik formal maupun nonformal. Entah itu yang di sekolah maupun yang di rumah.

“Dasar anak nakal !” misalnya. Orang tua melarang anaknya agar tidak jadi anak nakal, tapi menghukum dengan memvonis bahwa ia nakal. Anak pun bingung, ini dilarang nakal atau disuruh nakal.

Ketika ketidakkonsistenan menjadi hal yang lumrah, bersiapalah terjadi kekacauan dimana-mana. Na’udzubillah.

 

Suralaya, 27 September 2013

06.00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 September 2013 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: