.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Khasyyah

Diberi maaf, dikasih hadiah

"I pray" is better than "I wish"

“I pray” is better than “I wish”

Ada seorang suami yang menyia-nyiakan istrinya hingga 20 tahun. Tetapi sang istri sangat sabar meskipun sering tersiksa lahir batin. Bisa kau bayangkan, 20 tahun sodara2!. Tidak hanya sabar, tapi sang istri tetap memperlakukan suaminya dengan sangat baik

Bagaimana bisa sang istri ini tetap memperlakukan suaminya yang bejat itu dengan sangat baik. Oh, ia melakukannya semata-mata hanya mengharap balasan dari Allah. Ia terus bersabar menghadapi ujian itu, sembari terus berdoa sambil bersimpuh di atas sajadah tiap kali selesai sholat, mendoakan suaminya.

Ia mendoakan agar suaminya diberi hidayah, lalu bisa menjadi imam yang baik. Hanya kebaikan dan kebaikan yang keluar dari doa-doanya. Tidak ada doa yang jelek sedikitpun.

Pada suatu hari, tepat setelah 20 tahun, suami itu melakukan “sesuatu” yang membuat istrinya bahagia. Saking begitu bahagianya, istrinya tidak hanya memaafkan semua perbuatan-perbuatannya, tetapi juga memberi hadiah yang sangat-sangat berharga

Catat ya, setelah disia-siakan selama 20 tahun, istri itu memberikan 2 hal : maaf dan hadiah yg sangat2 berharga. Secara logika, seharusnya untuk memberi maaf saja sangat berat. Lha ini yang diberi tidak hanya maaf, tapi juga hadiah yang sangat berharga.

Lalu kira-kira “sesuatu” apakah yang dilakukan olah suami itu? “Sesuatu” yang membuat suami itu mendapatkan 2 hal : maaf dan hadiah yang sangat berharga.

 

**

“Sesuatu”

Saya mencoba mengajak kawan-kawan di twitter & FB untuk mencoba menjawab “sesuatu” apakah yang dilakukan suami itu.

Jawaban pun bermacam-macam >> Bertaubat. Minta maaf sama istrinya. Taubat nasuha lalu minta maaf. Punya anak kembar putra-putri, Berterimakasih sama istrinya. Dapat hidayah dari Allah. Naik haji bareng istri. Cerai. Suami meninggal tapi ngasih warisan diam-diam.

Saya tidak akan mengatakan mana yang benar, mana yang salah. Kawan-kawan saya ini menjawab juga tidak asal, punya alasan. Toh ini bukan cerita sebenarnya. Ini hanya cerita yang saya karang. Saya hanya ingin mengajak untuk berpikir.

Menurut logika saya, suami itu pasti melakuka “sesuatu” yang luar biasa. “Sesuatu” yang begitu susah dibayangkannya, saking luar biasanya. Si istri mau memaafkan saja  itu sudah sesuatu yang ajaib. Tapi ini suami yang tidak tahu terimakasih itu tidak hanya dimaafkan, malahan dapat bonus hadiah yang sangat berharga.

Intinya adalah bahwa “sesuatu” memiliki “nilai yang sangat-sangat tinggi”

Sampai di sini sepakat?

 

Ampunan dan Pahala yang Besar

Cerita tentang suami istri tadi itu hanya karangan saya saja. Mungkin bikin kawan-kawan saya penasaran. Namun sebenarnya itu akan saya gunakan sebagai ilustrasi saja. Juga sebagai analogi untuk kemudian dikaitkan dengan mengkaji ayat suci.

Berapa usiamu saat ini? Sepanjang itu, sudahkah melaksanakan tugas sebagai makhluk Allah dengan sebaik mungkin? Berapa banyak dosa yang sering kita perbuat (Astaghfirullah) ? Berapa kali kita mengalahkan Allah dengan urusan dunia? Berapa banyak maksiat yang kita lakukan?

Namun meski kita berlumur dosa, selama itu pula, Allah selalu memberi kebaikan-kebaikan yang tiada henti kepada kita. Kebaikan yang disadari maupun tidak disadari. Kebaikan yang dirasa secara langsung maupun tidak langsung. Kebaikan yang bentuknya bisa menyenangkan ataupun yang tidak mengenakkan.

Kita tidak akan pernah bisa membalas kebaikan dari Allah. Bahkan kalaupun kita mengerjakan kebaikan kepada Allah, itu sendiri merupakan kebaikan Allah kepada kita. Diizinkannya kita melakukan kebaikan merupakan kebaikan dari Allah.

Sesungguhnya orang-orang yang Khasyyah (takut) kepada Tuhannya yang tidak Nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

(QS. Al Mulk : 12)

 

Khasyyah

Dalam ayat ini, seseorang yang Khasyyah akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dari Allah. Lalu apa itu khasyyah?

Dalam terjemahan Al Quran bahasa Indonesia, khasyyah artinya takut. Namun, ada lagi kata yang bermakna takut yaitu Khouf. Keduanya sama-sama memiliki arti takut, tetapi maknanya berbeda. Levelnya berbeda

Khouf merupakan rasa takut kepada Allah karena Allah memiliki neraka, karena Allah akan menyiksa mereka yang berbuat salah kepada Allah.

Sedangkan khasyyah merupakan rasa takut berbuat salah kepada Allah bukan karena Allah punya neraka, tetapi karena Allah begitu sangat baik kepada kita. Ia akan selalu beramal baik karena menyadari bahwa selama ini Allah sudah sedemikian baiknya.

Takut kepada singa akan membuat kita tidak mendekat kepadanya atau melakukan perbuatan yang bisa mendekatkan kepadanya. Takut kepada neraka membuat kita tidak mau mendekat kepadanya atau melakukan perbuatan yang bisa mendekatkan kepadanya.

Namun khasyyah ini beda. Khasyyah merupakan rasa takut kepada Allah yang membuat ia yang memiliki rasa takut ini justru semakin mendekat kepada Allah. Tidak malah menjauh.

Khasyyah merupakan jenis rasa takut yang tidak membuat ketakutan, tetapi bisa menakutkan bagi siapapun yang tidak memilikinya. Khasyyah memberikan kekuatan ruh yang membuat kita hanya bisa beramal baik karena iman kepada Allah semata.

Semoga kita termasuk orang-orang yang khasyyah.

 

“Sesuatu” yang dilakukan sang suami

Kembali ke cerita yang saya karang. Saya sendiri sebenaranya belum memikirkan apa yang dilakukan oleh suami itu sampai-sampai istrinya mau memaafkan sekaligus memberi hadiah yang berharga.

Bisa jadi suami itu minta maaf lalu menyesali perbuatannya. Yang pasti, dalam hatinya tertanam rasa takut untuk menyakiti istrinya. Takut bukan karena istrinya itu menakutkan. Tetapi takut itu muncul karena selama 20 tahun, istrinya selalu berbuat baik kepadanya.

Dari rasa takut itu lalu lahirlah perbuatan-perbuatan untuk membahagiakan istrinya, selalu. Perbuatan-perbuatan untuk selalu membahagiakan istrinya itu bisa berbagai macam bentuknya, bisa kau kira-kira sendiri.

 

Suralaya, 14 Oktober 2013

malam takbiran idul adha

*sumber inspirasi :

Kajian tafsir Al Mulk, ustadz Syatori Abdul Rauf

Ramadhan di Masjid Nurul Ashri, Deresan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Oktober 2013 by in hikmah, ngaji yuk.
%d blogger menyukai ini: