.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pak Anton, Surti, dan Hujan

hujanHujan semakin deras, tapi Pak Anton tetap berangkat ke kantor. Tak boleh terlambat, apalagi hanya karena alasan hujan. Mobil jazz biru melaju di jalan menembus rintik-rintik hujan.

**

Surti berteduh di bawah pohon. Sudah 15 menit ia menunggu hujan reda. Pagi ini ia akan ujian semester, tidak boleh terlambat. Ia sudah berusaha berangkat dari rumahnya yang ada di gunung lebih awal dari biasanya. Seperti biasa, ia berangkat jalan kaki. Bagi orang kota, mungkin Itu sangat berat, tapi baginya itu sudah biasa.

**

Di tengah perjalanan, Pak Anton melihat seorang anak berseragam sekolah sedang berteduh di bawah pohon pinggir jalan. Dari gelagatnya terlihat kalau ia sedang resah ingin berangkat sekolah tetapi terhalang hujan. Tak ada sepeda, itu berarti ia berangkat berjalan kaki.

Hati Pak Anton tergerak untuk membantu anak itu. Apa salahnya ia membantunya. Rapat dimulai jam 8, sementara ia berangkat lebih awal. Masih ada waktu untuk berbuat kebaikan, mengantar anak yang kesusahan itu ke sekolah.

**

Surti mulai resah, ia masih berpikir-pikir apa yang harus diperbuat. Menerjang hujan dengan resiko pakaian basah tetapi tidak terlambat, atau menunggu hujan reda tetapi dengan resiko terlambat ujian.

Dari arah kanan jalan nampak mobil jazz biru yang sedang melaju mulai mengurangi kecepatan menuju ke arahnya. Ia tidak tahu, ada apa dengan mobil ini. Ah, mungkin ia juga ingin berteduh. Peduli amat, yang penting pilihan yang mana yang akan diputuskan, mau nekat hujan-hujanan atau menunggu hujan reda.

**

Crott…

Genangan air yang terinjak ban mobil terciprat membasahi baju Surti. Tidak hanya membasahi tetapi juga mengotori. Basah sekaligus kotor.

**

Pak Anton bingung. Ia merasa sangat bersalah. Niatnya ingin membantu anak malang itu malah membuat anak itu semakin malang. Niat baiknya tidak keturutan, yang terjadi justru ia menjadi penyebab keburukan. Ia menjadi orang jahat di mata si anak malang.

**

Surti menangis.

Tidak hanya kemalangannya yang berlipat, kebingungannya juga berlipat. Jika tetap menunggu hujan reda, pakaiannya tetap saja basah, tambah kotor pula. Kalau ia mau hujan-hujanan belum tentu ia boleh masuk ruang ujian karena basah sekaligus kotor. Kalaupun diperbolehkan, ia tidak akan bisa mengerjakan ujian dengan nyaman. Sekarang saja materi yang semalam ia pelajari sudah kacau gara-gara peristiwa ini.

Menangis, hanya itu yang ia lakukan. Pada pengendara mobil sialan itu, ia hanya bisa mengutuknya dalam hati.

**

Pak Anton turun dari mobil mendekati Surti. Rencana awal, seharusnya si Surti yang akan bertermakasih padanya, tetapi yang terjadi justru ia yang meminta maaf  pada Surti.

“Maafkan saya ya, dek. Saya niatnya mau nganter adek biar ga kehujanan. Malah jadinya begini. Bagaimana kalau saya anter pulang dulu, trus saya anter ke sekolah”.

 “Ga usah Pak, rumah saya di gunung. Mobil Bapak ga bisa sampai rumah saya. Lagian, nanti malah Bapak jadi terlambat berangkat ke kantor.”

Pak Anton ikut menangis melihat dirinya justru menjadi tersangka penyebab kesusahan anak yang sudah susah itu. Pemandangan di pinggir jalan itu semakin terlihat sendu. Dua orang menangis di tengah hujan.

**

Cerita selesai. Semoga kau bisa mengambil hikmah dari cerita fiksi ini.

*Niat baikmu tidak selalu bisa terwujud, jika Tuhan tidak menghendaki. Jika kau berhasil melakukan kebaikan apapun, sesungguhnya itu merupakan kebaikan Tuhan untukmu. Banyak-banyaklah bersyukur.

Suralaya, 15 Oktober 2013

Idul Adha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 15 Oktober 2013 by in Cerita Fiksi, hikmah.
%d blogger menyukai ini: