.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Listrik Itu Barang Mewah, Bung!

Di Terminal

Jika suatu ketika di terminal, baterai HP-mu habis, padahal kau sangat-sangat membutuhkan HP itu, pasti kau bingung. Power bank ga dibawa, atau malah ga punya. Lalu kau mencari-cari colokan stop kontak biar bisa nyalain HP kamu. Nyari ke Musola, sialnya ada larangan numpang nge-charge HP.

Kamu makin bingung. Tiba-tiba kamu melihat ada warung yang disitu ada tulisannya : “Cash HP 2000 rupiah”.  Bagaimana rasanya? Seakan-akan menemukan harta karun yang telah diburu sekian tahun.

Jangankan cuma dua ribu rupiah, lima ribu pun pasti akan kamu  bayar demi HP yang harus segera dinyalakan itu.

**

stop kontak

Oksigen

Cobalah kita berpikir sejenak, betapa kita saat ini sangat membutuhkan listrik mirip sebagaimana kita membutuhkan oksigen. Keberadaan listrik yang pada tahun 70-an mungkin masih pada level kebutuhan sekunder atau tersier, kini listrik telah menjadi kebutuhan primer.

Saking menikmatinya listrik, sampai-sampai banyak yang lupa bahwa listrik itu tidak gratis sebagaimana oksigen. Bahwa untuk menghasilkan listrik itu melewati proses yang panjang yang melibatkan banyak orang dan menghabiskan biaya besar.

“Lha saya kan sudah bayar listrik? Suka-suka saya dong!”

Eits, perlu diketahui ya, listrik yang dibayar oleh masyarakat itu tidak menutup biaya produksi listrik.  Itu makanya pemerintah masih memberikan subsidi kepada PLN untuk menutup kekurangan itu.

Padahal PLN itu perusahaan yang menerapkan sistem korporasi, PLN menjual listrik agar dapat laba. Untuk membeli bahan bakar, membangun & memelihara pembangkit, untuk member pelayanan terbaik kepada pelanggan, itu semua butuh biaya. PLN bukan perusahaan sosial nirlaba.

 

Keanehan Masyarakat

PLN merupakan BUMN yang berusia 68 tahun, sama seperti republik ini. Produknya senantiasa menerangi nusantara, tapi perusahaannya tak kunjung bersinar. Citra buruk melekat pada dirinya. Pelayanan yang belum maksimal, perusahaan yang memakan subsidi besar dari negara, dan seterusnya. Saat ini PLN terus memperbaiki diri agar citra buruk itu hilang dengan melakukan pembenahan di sana-sini.

Namun ada keanehan pada masyarakat kita. Yang saya maksud di sini adalah perilaku aneh masyarakat kita berkaitan dengan hal kelistrikan.

Saat listrik nyala selama sebulan tanpa padam, tak seorang pun berkomentar puas, tapi begitu padam 30 menit saja, orang-orang langsung kehilangan akal sehatnya. Ramai-ramai berkomentar dimana-mana. “Citra buruk memang pantas buat PLN”, kata mereka.

Begitu tarif listrik naik sedikit saja, langsung pada demo. Menjadi bahan perbincangan yang dibahas dimana-mana. Dari gedung parlemen, kantor-kantor, hingga di warung kopi.  Membahasnya bahkan sambil mengisap rokok. Padahal biaya isapan rokoknya jauh lebih banyak dari pada biaya bayar listrik.

 

Rokok vs Listrik

Sekitar 80 % dari 50 juta pelanggan PLN hanya membayar antara 415-605 rupiah / kWh. Bahkan pelanggan kelas B3 (seperti hotel bintang 5) hanya membayar 1013 rupiah saja. (data Maret 2013).

Coba kita bandingkan dengan biaya yang dihabiskan untuk menghisap rokok. Satu batang rokok yang harganya 750 rupiah itu habis dalam waktu 7-10 menit. Kemanfaatan 1 kWh listrik yg nilainya Rp 605 tersebut bisa utk menyalakan kulkas 60 Watt, TV 32 Inch, komputer desktop dan pompa air 250 Watt selama tidak kurang 2,5 jam!

 

Nyaman dengan Listrik

Betapa kita telah dibuat nyaman dan dimanjakan dengan listrik. Belum lagi jika digunakan oleh usaha home industry yang murni mengandalkan listrik PLN, tentunya sangat membantu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan.

Bayangkan jika listrik mati dua jam saja, berapa biaya yag harus dikeluarkan untuk membayar orang menimba air 100 liter, berapa banyak informasi yg tidak bisa diakses dalam kurun waktu terebut, berapa banyak daging, susu dan barang2 yang seharusnya awet disimpan dalam kulkas jadi cepat busuk.

 

Bersyukurlah dg Barang Mewah Ini

Sembari PLN memperbaiki kualitas pelayanannya, masyarakat pun juga sudah seharusnya memahami bahwa listrik itu barang mewah. Barang mewah itu layak jika harganya mahal, kalaupun harganya murah (karena dapat subsidi) bukan berarti ini barang murahan. Jadi, jangan mentang-mentang murah lalu kau berboros-boros dalam menggunakan listrik.

Berterimakasihlah pada pemerintah dan DPR yang memberikan subsidi listrik kepada rakyat. Saya katakan, subsidi ini untuk rakyat lho ya. Cuma, subsidinya langsung dibayarkan kepada PLN utk menutup kekurangan biaya produksi.

Bersyukurlah pula, hukum pasar tidak berlaku dalam krisis listrik. Hukum pasar menyebutkan jika pasokan (supply) sedikit sementara permintaan (demand) tinggi maka harga akan naik. Kalau hukum ini berlaku dalam krisis listrik, gimana coba kepanikan masyarakat? Harga kebutuhan sehari-hari pasti ikut naik semua.

 

Majulah PLN !

?????

Tanggal 27 Oktober merupakan hari jadi PLN yang dijadikan sebagai Hari Listrik Nasional. Menjadi tantangan bagi PLN untuk melistriki seluruh wilayah Indonesia dengan sebaik mungkin.

Di usia yang ke 68 ini, semoga PLN semakin maju. Tak lagi berjalan tapi berlari, tak lagi jadi ban belakang tetapi menjadi ban depan. Menjadi perusahaan yang bermartabat dan dicintai rakyat Indonesia.

Tidak ada lagi istilah : “Produknya menerangi nusantara, tapi perusahaannya tak kunjung bersinar”

 

 

Kampus PLN Udiklat Suralaya,

26 Oktober 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Oktober 2013 by in opini, PLN.
%d blogger menyukai ini: