.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Dari Jancuk Hingga Singo Goreng

Pisuhan

Pisuhan merupakan kata benda dari asal kata kerja “misuh”. Misuh itu bahasa jawa. Dalam bahasa Indonesia mungkin bisa diartikan sebagai memaki, mengumpat. Jadi, pisuhan itu bisa juga diartikan umpatan atau sumpah serapah.

Jenisnya pun bermacam-macam. Di antaranya yang popular diambil dari nama hewan, ada juga yang kata yang memiliki konotasi kotor, atau memang kata yang khusus untuk pisuhan.

“Anjing !”

“Asuu !”

“Bajingan !”

“Jancuuk !”

 

Deferensial Pisuhan

Demi mengurangi tingkat kekasaran, ada variasi pisuhan yang merupakan deferensial dari pisuhan utama. Pisuhannya sama-sama mantab, tapi agak sedikit tersamarkan. Tidak terlalu frontal, tapi tidak mengurangi kepuasan si pemisuh.

“Anjroooot” > (dalam bahasa jawa artinya meloncat, tapi sebenarnya plesetan dari kata “Anjing”)

“Asssyem” > (bermakna rasa masam, tapi sebenarnya plesetan dari kata “Asuu”)

“Bajiguur” > (ini merupakan minuman hangat yang enak, tapi sebenarnya plesetan dari kata “Bajingan”)

“Jangkrik” > (ini nama serangga yg kecil, tapi ini sebenarnya plesetan dari kata “Jancuk”)

 

Mencairkan Suasana

Jika ingin misuh, kau musti melihat kondisi lingkunganmu. Dimana kau berada & dalam kondisi apa kau memisuh harus diperhatikan dengan seksama. Jika tidak hati-hati, bisa-bisa malah berakibat yang tidak baik pada dirimu.

Pisuhan ini tidak selalu bermakna menghina atau merendahkan orang lain. Namun juga bisa berfungsi mencairkan suasana, tentunya dengan syarat tadi itu : waktu dan tempat harus pas.

Ketika sedang main PES (game sepak bola) misalnya, kau hampir mencetak gol lalu gagal, lalu kau misuh. Ini membuat seru suasana. Lebih baik daripada hanya diam saja. Suasana jadi saling menjancuki atau membajiguri, ini seru.

badut

Kreatif

Ketidakbakuan pisuhan sebagai hal negatif ini dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk mengembangkannya dengan berbagai kreatifitas. “Matamu” misalnya, ditranslate dalam bahasa walikan menjadi “Dagadu”, itu merk kaos oblong terkenal dari Jogja. Di Surabaya juga ada kaos oblong “Cak Cuk”. Ini jelas pisuhan yang menguntungkan.

Ada pula budayawan yang mengkampanyekan kata “Jancuk” sampai-sampai seakan itu trade mark baginya. Ia bahkan didaulat (atau malah mendaulatkan diri) sebagai Presiden Jancukers di Republik Jancukers. Sang budayawan ini juga mengarang lagu berjudul “Jancuk” yang menurut saya benar-benar njancuki. Haha

 

Variasi Bumbu

Pisuhan ibarat bumbu. Bumbu itu yang penting enak. Namun jika bumbu itu halal dan menyehatkan tentu jauh lebih baik. Meskipun misuh untuk niatan mencairkan suasana, jika pisuhan itu bisa divariasikan dengan kata-kata yang tidak “kotor”, why not?

Teman saya, panggil saja Popo, sangat kreatif sehingga darinya muncul varian baru pisuhan yang bukan plesetan dari pisuhan utama. Kalaupun berupa deferensial, entah ini produk deferensiasi pisuhan yang keberapa.

Ketika asyik bermain PES, pisuhan itu meluncur begitu saja. Justru membuat saya dan yang lainnya tertawa. Malah saya belakangan terkadang mengikuti pisuhan itu. Unik, ga nyambung, kreatif, tapi lucu. Tidak lagi “Bajingan”, “Jancuk”, “Asu”, “Bajigur”, dan kawan-kawannya.

Ketika pemain hampir mencetak gol tapi kena gawang, atau tiba-tiba pemain lawan melakaukan pelanggaran tiba-tiba terdengar pisuhan baru:

“Badut!!” (apa salahnya Badut, coba?)

“Bandeng !!” (ini lagi, ini lauk yang sering dimakan, Broh!)

“Singo Goreng!!” (pikiran saya bahkan tidak sampai meraihnya, Haha)

 

Pusdikzi-Bogor,

11 Nov 2013

11 comments on “Dari Jancuk Hingga Singo Goreng

  1. ichigoichiyo
    12 November 2013

    honestly, ngerti sih orang misuh sebagian untuk mencairkan suasana. Tapi yo secara moral, akhlak, tetap ndak beretika, apalagi kalau muslim, yang udah diatur cara-cara berkomunikasi yang bisa nyair tapi tetap santun. Saya lebih seneng sama caranya Popo. Belakangan juga seneng nyari istilah kata hanya untuk “misuh” tapi dari asal kata yang baik🙂

    • kangridwan
      12 November 2013

      Dalam hal ini, menurutku variabel lingkungan kaitannya dg etika “misuh” sangat kuat. Selama lingkungan (orang-orang di sekitar) sepakat itu tidak menyakiti hati satu sama lain, dan pisuhan tidak berupa doa keburukan, I think it doesn’t matter.

      Cuma saja, di sini aku ngasih alternatif yaitu cara misuhnya si Popo.😀

  2. icik
    12 November 2013

    “Dalam hal ini, menurutku variabel kaitannya dg etika “misuh” sangat kuat. Selama lingkungan (orang-orang di sekitar) sepakat itu tidak menyakiti hati satu sama lain, dan pisuhan tidak berupa doa keburukan, I think it doesn’t matter”

    Yep bener banget! Kalau di case linguistics kita akan mengenal istilah ‘slang word’ (objek penelitian thesis yang belum kelar-kelar hihihi). Slang word itu artinya bahasa yang digunakan oleh grup/ komunitas masyarakat tertentu dalam konteks tertentu, kata-kata itu maknanya tidak seperti di kamus standard language pada umumnya. Bisa diteliti lewat pragmatics/ sociolinguistics point of view, supaya tidak terjadi kesalah pahaman atas kata slang word itu.

    Itulah mengapa hidup memang bakal jadi ladang untuk belajar yang luas sekali, kita ga bisa kalau hanya menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja. Harus bisa membaca dari sudut pandang orang lain juga. Bukan untuk pemakluman-pemakluman tanpa sebab, tapi supaya kita bisa adil menilai sesuatu. Karena apa yang kita pikirkan baik belum tentu baik menurut yang lain, begitu juga sebaliknya. CMIIW🙂

    Makasih ya Pak Pelen atas ‘sarapan’ bermenu pisuhan ini. Mencerahkan dan solutif! (y)

    • kangridwan
      12 November 2013

      Makasih juga tanggapannya, Bu. Semoga tugas akhir tentang “slang word” nya segera selesai. Sy sungguh tercerahkan.😀

      Karena kelompok komunitas itu memiliki batasan, maka dari itu pisuhan pun juga memiliki batasan, seperti yg saya sebutkan

  3. ichigoichiyo
    12 November 2013

    Emang Islam sefleksibel itu kah ngasi aturan tentang cara berkomunikasi mencairkan suasana? I guess NO

    • kangridwan
      12 November 2013

      Aku udah memberi batasan ttg kefleksibelan yg aku maksud : tdk menyakiti hati, bukan doa keburukan, oya tambah lagi : tidak merendahkan agama kita.
      Kalo dg jalan “pisuhan” lalu suasana cair, lalu kita dianggap dlm klompok itu, apa yang kita sampaikan lebih mudah diterima.

      Contoh kasus nyata : kepada para pemisuh itu aku ajak “Ayok solat dulu”. Lalu mereka segera ambil wudhu. Karena aku bukan lg dianggap orang luar yg ga gaul tiba2 nyuruh solat gitu.

      Mungkin bisa juga ini dikategorikan dg : bahasa kaum.

      Jika ragu, berhati-hati tentu lebih baik..

      Wallahua’lam

      • ichigoichiyo
        13 November 2013

        that’s what I mean. Tidak menyakiti hati, bukan doa keburukan, dan tidak merendahkan agama. Dan mungkin tambahan buat ichi, lawan bicara harus ngerti kalau “pisuhan” yang diucapkan itu ndak ada arti2 jeleknya sedikit pun. Hanya untuk mencairkan suasana🙂

  4. Siti Lutfiyah Azizah
    13 November 2013

    asem itu dari kata asu???? *kaget total*
    Ya allah, aku suka make kata itu gegara maen sama anak-anak Jawa. aku pikir artinya semacam ‘dasar!’ jadi biasa aja. ternyata kasar banget ya *ampuni aku Tuhan..*

    thanks ya rid udah bahas ginian. jadi berhati-hati kalo iseng pake kata asing yang suka kelontar dari temen-temen cowo -_____-

    • Siti Lutfiyah Azizah
      13 November 2013

      tambahan: meskipun emang bener banget, kalo di lingkungan yang katakanlah baru bisa ‘dimasuki’ dengan pisuhan ini, ada baiknya mengkreatifkan diri dulu kata pisuhannya ya biar ga terlalu kasar kali ya. Kaya temenmu itu..

  5. Ping-balik: Makian | Elang Biru

  6. aerodest
    29 November 2013

    Singo Goreng!
    hahahah.. ketawa2 sendiri baca tulisanmu. hahahahaha😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 November 2013 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: