.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Tentara Gadungan Kebingungan

 

Kereta dari Bogor Ke Jakarta tidak berhenti di Stasiun Pasar Senin, tapi dari Jakarta ke Bogor kereta berhenti di Stasiun Pasar Senin. Padahal keretamu yang ke Jogja itu berangkatnya dari Stasiun Pasar Senin

 

stasiun bogor

stasiun bogor

Lima pemuda berambut cepak, berjalan gagah di stasiun Bogor. Kalau sekilas mungkin orang mengira mereka itu tentara. Tapi bagi yang teliti, ia tak akan tertipu. Yang berbadan tinggi cuma 2 orang, sisanya badanya kecil. Sudah kecil, kurus lagi. Malahan satu di antaranya menggunakan kacamata minus, bahkan usut punya usut dia malah kumendan “tentara” itu. Padahal mana ada tentara yang matanya minus.

Yang memakai kacamata itu ya saya ini. Kondisinya, kami berlima mau pulang ke arah Jogja. Waktu menunjukkan pukul  5 sore, padahal kereta kami berangkat jam 9 malam. Ngomong-ngomong tentang tentara, kami sebenarnya 10 hari tinggal di Pusdikzi (itu kandang tentara) bahkan 2 bulan sebelumnya kami 10 hari tinggal di Pusdikpassus (ini lebih sangar). Yang membuat mirip tentara selain rambut cepak, mungkin kulit kami yang (semakin) gelap dan atau mungkin juga keringat kami yang ikut-ikutan berasa khas tentara.

Sebenarnya, ada lagi yang aneh jika ada yang mengira kami tentara. Tentara kok rempong. Masing-masing dari kami membawa 3 tas. Satu tas di punggung, satu tas dijinjing, satu lagi koper, besar-besar lagi. Kalau merujuk aturan, dimana satu penumpang hanya berhak membawa barang berdimensi sekian, sebenarnya kami ini tidak boleh. Namun, gimana lagi. Namanya juga tentara. Haha.

 

***

 

Dua  hari sebelumnya…

“Jadi begini, kondisinya Broh. Kereta kita Senja Utama Solo, berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 21.15. Sementara kita belum pasti jam berapa bisa cabut dari sini. Aku ngajak kalian bertaruh dengan waktu nih, 170 ribu. Kalo kita menang, ya kita bisa pulang secepatnya. Di kereta tidur, bangun-bangun sudah sampai.” Si Kumendan memimpin rapat.

“Kalau kalah?”

“Kalau kalah, kita kehilangan 170 ribu + nginep di stasiun + beli tiket lagi untuk kereta pagi harinya. Kita punya peluang kalah, tapi jangan lupa kita juga punya peluang menang!”

“Kalau semisal ga kekejar, yakin kita bisa dapet tiket pagi harinya, Wan?”

“Setauku bisa. Kita jagain depan loket. Ada kuota berapa kursi untuk yang beli langsung. Tenang aja, urusan kereta, aku banyak pengalaman. Tahun ini aja aku udah ke jakarta 2 kali naik kereta. Aku juga pernah ngalamin ketinggal kereta 10 menit & nginep di stasiun.”

“Oke, ambil deh!” jawab Iskan

“Aku ngikut !” Setbu, Popo & Bessing mengikuti.

Deal, kami membeli tiket di Indomart. Ada banyak kemudahan atas perubahan besar-besaran yang dilakukan PT KAI. Meskipun muncul juga kerepotan-kerepotan lainnya.

 

***

 

“Mas, TNI ya mas?” Ibu itu bertanya entah penasaran, atau ragu, atau ingin memastikan, atau hanya iseng. Entah.

“Bukan Bu. Kami PLN.” Jawab Setbu

“Apa? PNS?” Ini juga entah ibu itu agak budek atau suasana di stasiun terlalu ramai.

“PLN, Bu!” Setbu mengulang jawaban yang sama.

Kami sudah di dalam KRL, dari Bogor menuju Jatinegara. Kereta ini akan melewati Pasar Senen, tapi tidak berhenti. Jadi kami akan turun di stasiun Gang Sentiong (aneh, kan namanya?). Lalu menunggu kereta ke arah Bogor lagi, baru bisa turun di stasiun Pasar Senen.

Saya melihat rute KRL, menghitung berapa dan apa saja stasiun yang akan dilewati. Kami mendapatkan tempat duduk, beberapa tas sudah ditaruh di bagian atas tapi tetap saja terlihat rempong. Lalu kami menyadari satu hal, banyak penumpang pindah ke kereta sebelah. Ada apa ini? Ternyata tujuan KRL sebelah sama dengan KRL yang saya tumpangi, hanya saja berangkat lebih duluan.

“Bagaiman   kalau kita pindah ke kereta sebelah, berangkatnya 3 menit lagi. Sementara kereta ini masih berangkat 15 menit lagi.” Saya bertanya dengan pelan dan suara yang santai.

“Ya ngikut aja, kamu pemimpinnya” jawab Iskan.

“Oke, kita pindah. Bersiap. Satu.. Dua.. Tiga..” Aba-aba yang saya berikan pelan. Tetapi setelah itu gerakan kami cepat. Semua serentak mengambil tasnya masing-masing. Hanya Popo yang sedikit terlambat menyadari gerakan cepat kawan-kawannya.

“Baduuut Baduuut”, Popo mengumpat sambil rempong membawa barang-barangnya.

 

***

 

Setbu, Saya, Iskan, Popo

Setbu, Saya, Iskan, Popo

Gerbong KRL yang baru ini lebih padat dari yang pertama. Beruntungnya di pojok gerbong yang biasanya ada kursinya, ini tidak ada. Space kosong itu kami gunakan untuk meletakkan semua barang-barang kami. Tidak seperti di KRL sebelumnya, kali ini kami berdiri. Berdiri gagah, meski masih kalah gagah dibanding patung polisi di dekat perempatan.

Petugas yang lewat tidak ada yang menegur. Mungkin mengira kami tentara. Bessing bahkan malah duduk di lantai bersama tas-tas besar kami. Padahal duduk lesehan di KRL itu sebenarnya dilarang. Perawakannya memang mirip tentara, tapi gaya duduknya mirip tentara stress, galau, kebingungan. Duduk di pojok dan memelas.

Terlanjur merasa dikira tentara, ketika ada bapak-bapak (seorang bapak sebenarnya) saya jawabnya juga sok tentara.

“Darimana mas?” Tanya penumpang, pria paruh baya.

“Dari pendidikan, Pak” saya lepas kacamata saya.

“Di mana?”

“Di Pusdikzi Bogor Pak. Dua bulan sebelumnya malah sempat di Pusdikpassus”

Jawaban sangar, tapi saya tidak bohong. Faktanya memang begitu.

 

***

 

Bessing, ada di pojok gerbong, dekat tumpukan tas, dengan gaya tentara ngenes

Bessing, ada di pojok gerbong, dekat tumpukan tas, dengan gaya tentara ngenes

 

Singkat cerita, tibalah kami di stasiun Pasar Senen. Masih ada waktu 15 menit sebelum kereta berangkat. Sebenarnya ini waktu cukup panjang jika saja tidak ada acara menukar karcis indomaret dengan tiket sebenarnya.

Tempat penukaran tiket dengan pintu masuk cukup jauh, saya bahkan sampai ngos-ngosan karena berlari-lari. Sementara itu teman-teman saya sudah menunggu di pemeriksaan tiket. Sudah antri, ternyata salah loket pula. Padahal kereta sudah manasin mesin, tinggal berangkat 5 menit lagi.

Wes hewes hewes, kami berhasil mencapai misi utama kami. Pertaruhan 170 ribu kami menangkan dengan berangkat malam itu juga. Tidur di kereta, bangun-bangun sampai.

Kereta berjalan (maksudnya bergerak) meninggalkan Jakarta. Barang-barang sudah tertata rapi di tempatnya. Keringat masih membasahi badan atas perjuangan barusan. Namun kini sudah duduk tenang dan bernafas santai. Lega. Popo duduk di dekat saya.

“Wan, ini bener-bener gambling yang beruntung ya! Luar biasa. Nyaris saja telat.” Popo berkomentar sambil menata nafas.

“Ketidakpastian? Justru itu yang membuat hidup kita jadi asyik bro. Disitulah, manusia diberi kesempatan untuk menghadapi tantangan, melewati ujian. Dengan ketidakpastian, orang miskin berkesempatan menjadi orang kaya. Hidup ini merupakan perjuangan untuk memenangkan ketidakpastian itu bro.” Tiba-tiba saya tidak lagi mirip tentara, tapi mirip Mario Teguh.

 

Kutoarjo, 27 November 2013

 

 

Iklan

2 comments on “Tentara Gadungan Kebingungan

  1. Legend Wannabe
    28 November 2013

    woh bisa pas banget ya mas, telat dikit dah ketinggalan kereta tuh. Pengalaman yang seru nih 😀

  2. iboymuharram
    28 November 2013

    berkesan banget ya?! ahahah..

    Popo jadi kurusan dan putihan gitu, ya Allaah.. semoga baik2 aja sobatku yang satu itu :’)

    baarakallaahu fiikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 November 2013 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: