.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Terimakasih GPS (Perjalanan Super)

 

 

Ketika harapan kepada manusia sangat kecil, saat itulah ketidakberdayaan sebagai manusia terasa. Satu-satunya tempat harapan hanyalah kepada Dia yang Mahakuasa. Bisa jadi, kondisi itu memang Dia takdirkan, agar engkau ingat padaNya, mendekat padaNya.

 

Global Position System

Cerita ini berawal ketika saya dan teman-teman saya pulang dari Payakumbuh ke Talawi menggunakan jalur yang ada di GPS. Kami jalan-jalan ke Bukittinggi lalu ke Payakumbuh. Saya tidak akan bercerita ngapain saja kami di sana. Tapi perjalanan pulang ini sungguh mengerikan, mendebarkan, mengasyikkan, dan mengesankan.

Tokoh di cerita ini adalah saya, Nanda, Angga, dan Bertu. Perjalanan kami dari Payakumbuh jam 6 sore, naik Toyota Rush. Di antara kami tidak ada yang orang Sumatera, perjalanan kami menuju Talawi menggunakan rute yang ada di GPS.

Bertu yang menjadi mengendarai dengan kecepatan tinggi, sementara saya duduk di sampingnya sambil memandu arah sesuai petunjuk dari GPS. Ini Sumatera, bukan Jawa. Sesekali kami memasuki jalan yang gelap gulita, kiri kanan hanya pepohonan atau persawahan, lalu melewati perkampungan lagi. Jalannya mulus, aspalnya halus.

“Keren ya, GPS !” Beberapa kali saya berkata seperti itu pada Bertu. Bertu yang sedang konsentrasi menyetir mungkin bosan mendengarkannya.

Berdasarkan GPS, perjalanan kami tinggal seperempat perjalanan lagi. Harusnya kami belok kanan, tetapi kami sempat keblabasan. GPS memberi peringatan untuk balik arah. Kami mengikuti instruksi alat canggih ini.

 payakumbuh talawi

Mendaki Gunung

“Serius nih, Wan? Jalannya kok kecil begini?” Bertu merasakan sesuatu yang aneh.

Jalannya memang lebih kecil dari sebelumnya. Ini masuk kampung. Rumah semakin jarang. Mau tanya orang, jarang terlihat. Tetapi saya masih percaya pada GPS. Ini sudah dekat.

“Lanjut saja, lha gimana lagi. Ga jauh kok, tinggal seperempat perjalanan nih” saya meyakinkan teman-teman.

Tidak ada lagi rumah, tidak ada listrik. Jalan mulai menanjak. Ya, Ampun. Kami naik gunung. Kanan jurang, kiri tebing. Pepohonan rimbun terlihat di sana sini. Bulan hampir purnama, samar-samar terlihat bahwa kami berada di atas ketinggian.

“Bro, kita di atas gunung ini” Nanda & Angga mulai ikut khawatir. Khawatir kalau terjadi apa-apa.

“Jangan panik, tetap fokus pada jalan !”

Saya memberi arahan kalau di depan ada tikungan, ada belokan, melalu GPS. Bertu konsentrasi mengendarai mobil di jalan yang lebarnya ngepress ini.

 

Tikungan Longsor

Di depan ada tikungan tajam, ternyata tikungan itu berada di tanjakan yang lumayan curam. Saya yang duduk di kiri melihat kalau bagian dalam dari tikungan itu longsor. Jalannya anjlok setengah meter. Saya mau memberi peringatan Bertu. Tetapi terlambat.

Braaaaak !!

Roda belakang sebelah kiri terperosok. Mobil tidak bisa berjalan karena selip. Kekhawatiran itu benar-benar menjadi kenyataan.

Saya, Nanda, dan Angga keluar mobil. Mencoba mengangkat tapi mobil tak bergerak. Mencari batu untuk mengganjal roda tapi tidak ketemu. Menemukan kayu tetapi sudah lapuk.

Lemas…

Di tengah hutan, di atas gunung, tak ada rumah, tak ada listrik, mobil rentalan, tidak ada dongkrak di dalamnya, tidak ada peradaban. Lengkap sudah derita kami. Bahkan kami ada di mana, saja tidak tahu.

Tidak boleh menyerah. Kami mencoba apapun yang kami bisa, sambil berdoa semaksimal mungkin. Hanya Allah yang bisa menolong kami.

 

Pertolongan Datang

Tiba-tiba ada 3 motor melintasi jalan sepi ini dari arah bawah. Tiga bapak-bapak dan dua ibu-ibu. Mereka berhenti dan ikut membantu. Sempat ngobrol sebentar tapi saya tidak paham bahasa Minang yang digunakannya.

Alhamdulillah saya masih di Indonesia, bertemu dengan orang Indonesia yang sebenarnya. Orang Indonesia yang suka bergotong royong, suka membantu ketika ada yang kesusahan itu memang nyata.

Beberapa saat kemudian dari arah atas terlihat dua cahaya motor, yang kemudian diikuti lebih banyak lagi motor. Rombongan anak muda sedang rame-rame mau malam mingguan turun gunung. Melihat ada mobil nyangkut, mereka langsung pada menepi. Membantu kami.

Allahu Akbar, batin saya.

Mobil kami terperosok di sini pasti ada yang mengatur, ada bapak-bapak lewat  juga ada yang mengatur, sampai anak-anak muda yang ramai-ramai melewati jalur ini dengan timing yang tepat juga pasti ada yang mengatur. Tidak ada yang meleset. Siapa yang mengatur? Tidak lain dan tidak bukan adalah Dia yang maha kuasa, Allah Swt.

 

Gotong Royong Angkat Mobil

Belasan orang terlibat pada kasus ini. Ada yang menemukan batang kayu besar. Lalu ramai ramai kami mengangkat mobil bagian belakang, kayu di masukkan di bawah roda. Tiga kali gagal. Akhirnya menggunakan cara manual, tanpa pengungkit atau pengganjal : Kami angkat sekaligus geser itu mobil, menggunakan otot tangan !

Mobil bagian belakang terangkat, semua roda kembali menginjak jalan. Beres. Saya berterimakasih pada semua orang yang membantu proses pengangkatan mobil ini. Para pemuda mengambil motornya masing-masing, melanjutkan perjalanan, tanpa meminta imbalan.

Mobil bisa kembali berjalan, lega rasanya.

 

Lemas jilid 2

Berikutnya kami lebih berhati-hati. Tiap kali melihat tikungan saya memeriksa kalau-kalau ada yang longsor lagi. Bertu mengendarainya juga lebih konsentrasi.

Jalan masih saja menanjak dan alamak, bensin kelap-kelip hampir habis. Apa jadinya kalau bensin habis di sini. Tidak ada listrik tidak ada pemukiman dan kami terancam tidur di hutan. Padahal jalan menanjak itu menyedot bensin lebih banyak. Lemas. Paha terasa gemeteran,

Masih dalam kondisi lemas, kami melewati tikungan dan kemudian terkejut. Terkejut yang membuat kami makin lemas lagi. Di depan kami terlihat jalan yang sedang diperbaiki setelah kena longsor, ada banyak batu, tetapi jalannya rusak. Ini mobil bisa lewat tidak. Kalau putar balik pasti repot, belum lagi bensinnya tidak mungkin cukup karena kami tahu di belakang tidak ada yang jualan bensin.

Kami tidak menyerah. Mobil terus melaju, Bertu hati-hati memilih jalan. Mulut kami komat-kamit berdoa. Lagi-lagi kami merasa tak berdaya. Hanya Dia yang mahakuasa, yang bisa menolong kami.

Setelah melewati gejolak jiwa dengan gelombang yang tinggi, akhirnya kami melihat ada satu rumah, ada listrik. Akhirnya ada peradaban. Berikutnya semakin terlihat ada pemukiman dan kami menemukan penjual bensin eceran.

Kami selamat…

 

Pelajaran

  • Jangan menyerah, tetap optimis, tapi waspada.
  • Berdoa jangan lupa.
  • Kalau menggunakan GPS harus jeli, jalan pendek berkelok itu berarti gunung
  • Untuk melewati medan yang belum dikenal, pastikan bensin cukup
  • Jangan pergi sendirian, ada teman itu lebih baik.
  • Kalaupun pinjam mobil rental, usahakan ada dongkrak & alat-alat lainnya di dalamnya.

 

Yang Paling Berharga

Kekuasaan-Nya benar-benar terasa. Bapak-bapak dan belasan remaja yang melewati jalan itu Allah lah yang menggerakkannya. Mereka ditakdirkan untuk menolong kami. Nyatanya setelah bertemu mereka kami tidak menemui orang lain yan melewati jalan tersebut. Ini pasti bukan kebetulan.

Ketika harapan kepada manusia sangat kecil, saat itulah ketidakberdayaan sebagai manusia terasa. Satu-satunya tempat berharap hanyalah kepada Dia yang maha mengatur segalanya. Bisa jadi, kondisi itu memang Dia takdirkan, agar engkau ingat padaNya, mendekat padaNya.

Maka atas kejadian ini, saya tidak memaki-maki GPS, seperti yang pernah dilakukan teman saya ketika ia nyasar gara-gara GPS. Saya justru bersyukur mengalami perjalanan ini, perjalanan yang mengesankan dan tak akan terlupakan. Terimakasih GPS.

 

 

15 Des 2013

Talawi, Sawah Lunto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17 Desember 2013 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: