.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Istri fulltime, Ibu fulltime

 

Belum ada setengah hari, saya sudah mendapati sebuah pelajaran berharga dari jalan hidup tiga orang yang saya dapati.

**

Saya berangkat ke kantor, nebeng motor seseorang. Itu hal yang sudah biasa bagi saya. Kami sama-sama menggunakan helm. Bukan helm SNI untuk motor, tapi helm proyek. Gahol abis, kalau pas di belakang truk ya siap-siap kemasukan debu matanya.

Di tengah perjalanan, sambil ngobrol, dia bercerita kalau dia itu rekanan alias outsourcing . Kok bisa tinggal di perumahan karyawan PLN ? Oalah, ternyata istrinya yang pegawai PLN.

“Saya masih baru disini, Bang. Baru tiga bulan” Sambil mengendarai motor dia bercerita.

“Maksudnya?” Tanya saya sambil memasang telinga.

“Sebelumnya saya tinggal di Medan, kerja di Astra. Baru bareng istri ya tiga bulan terakhir ini”

“ Lha menikahnya udah berapa bulan, Bang” tanya saya. Ikut-ikutan manggil pake Bang. Bukan Mas, Kang, atau Aa’. Dia ini orang medan, dan kini kami di Sumatera.

“Setahun lebih. Ya gimana lagi, Istri saya kalau mau keluar PLN agak susah. Harus bayar denda. Belum ada 5 tahun.”

**

puskesmas

Sudah tiga hari, mata kanan saya berwarna merah. Maksudnya, bagian mata yang seharusnya berwarna putih ini agak kemerahan. Yang berwarna hitam, tetap berwarna hitam kok. Ini iritasi ringan. Sudah menggunakan obat tetes yang biasanya muncul di iklan TV belum juga sembuh.

Saya memutuskan ke Puskesmas Talawi, izin keluar sebentar.

“Ridwan tinggal di perumahan PLN?” tanya bu Dokter sambil memeriksa saya.

“Iya Bu”

Bu dokter itu masih muda, berjilbab, wajahnya bersih, umurnya belum ada 30 tahun lah.

“Di rumah siapa?”

“Wah, ga tahu Bu. Di rumah paling pojok lah. Saya masih OJT Bu”

“Saya juga tinggal di perumahan PLN. Di rumah Pak Danu”

Mendengar itu, saya kaget.

“Oalah, Ibu tu Bu Danu to? Pak Danu itu mentor saya selama OJT ini Bu?” Saya sumringah

Sekali lagi saya menemukan pasangan Enjiner – Dokter. Ada yg pernah bilang waktu kuliah dulu, anak teknik ketemu kedokteran itu pas. Sampai-sampai di film 3 Idiotsi tokoh utamanya yang seorang Enjiner itu pasangannya seorang Dokter.

“Ibu kuliah di UI juga?”

Sebenarnya pertanyaan ini untuk ngasih tau secara tidak langsung kalau saya itu tahu tentang suaminya. Sejauh ini, Pak Danu sendiri menurut saya orangnya keren. Asisten Manajer yang kreatif, idenya banyak, supel, dan rajin ke masjid.

“Saya dulu bukan di UI, tapi YARSIS”

Sesampai di kantor, saya bercerita tentang Bu Danu yang ternyata seorang dokter.

Kemudian saya mendapati fakta baru. Ternyata Bu Danu ini baru tiga minggu tinggal di sini, sebelumnya di Jakarta. Pak Danu nya yang bolak balik Jakarta setiap berapa periode sekali. Padahal usia pernikahan mereka sudah lebih dari 5 tahun.

**

“Kalau nyari isteri mending yang di rumah saja. Itu menurut saya lebih baik dari pada dua-duanya kerja. Saya sudah pengalaman ini” Pak Yana, salah satu supervisor di sini bercerita.

Pengalaman? Saya jadi penasaran dengan maksud kata ini. Pengalaman nyari isteri? Setahu saya di PLN istrinya hanya boleh satu.

“Istri saya yang pertama sudah meninggal. Dia dulu kerja di PLN juga.”

Ternyata ini jawabannya. Dari percakapan sebelumnya, bisa disimpulkan kalau Pak Yana saat ini sudah menikah lagi dengan istri yang di rumah saja.

“Kalau sama-sama kerja, secara ekonomi jelas tidak ada masalah lah. Tapi kasihan anak-anak kita, yang ngerawat malah pembantu. Semisal ambil raport, teman-temannya pada diambilkan orang tuanya, dia malah yang ngambil orang lain.”

Saya jadi teringat, ketika orientasi perusahaan, salah seorang direktur PLN pernah berkata : kalau ingin kaya jangan masuk PLN, jadilah pengusaha. Tapi kalau menjadi pegawai PLN, Insya Allah hidup kalian tercukupi.

Jam istirahat tiba, saya iseng bertanya pada Pak Yana.

“Kalau jam istirahat pulang, Pak?”

“Pulang lah, makan siang di rumah.” Sambil tersenyum Pak Yana menjawabnya.

Oiya, di rumah ini maksudnya pasti dengan keluarga di rumah. Dengan istri dan anak-anak.

**

 

Lalu pelajaran apa yang bias didapat?

Kebahagiaan itu tidak melulu soal terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga. Kebersamaan dengan keluarga inilah yang membuat bahagia. Awal mulanya mungkin istri ikut bekerja untuk membantu menyokong ekonomi, tentunya ini hal yang bagus. Tetapi ketika kemudian mengganggu tugas utamanya sebagai isteri atau ibu, menurut saya tidak lagi menjadi hal yang bagus.

Ini bukan berarti wanita tidak boleh berkarir. Justru menurut saya wanita harus berkarir secara professional, tidak setengah-setengah, totalitas, fulltime. Dan sebaik-baik karir seorang wanita adalah menjadi istri dan ibu. Itu merupakan karir yang utama, mulia, dan membanggakan.

Dalam kerja tim, atau berorganisasi, ada pemimpin ada yang dipimpin. Masing-masing memiliki tugas atau perannya sendiri, dengan jenis tanggung jawab  yang berbeda pula. Begitu pula dalam berkeluarga. Mencari nafkah merupakan tugas utama suami. Itu kewajiban suami. Sementara itu, istri tidak berkewajiban untuk mencari nafkah.

Sementara itu, wanita sebagai istri atau ibu, tugas utamanya juga tidak ringan. Ketika suami sedang bekerja, ia mengambil alih tanggung jawab yang ada di rumah. Istri juga yang akhirnya memberi support ketika suami pulang bekerja. Suport itu bisa dalam berbagai wujud. Sehingga yang terjadi adalah suami selalu ingin segera pulang, karena baginya : rumahku istanaku, rumahku surgaku. Istri lah yang memiliki peran besar dalam mengkondisikan rumah serasa surga.

Menjadi ibu juga bukan hal yang mudah, bukan hal yang sepele. Mendidik anak merupakan kewajiban kedua orang tua, bukan hanya ibu saja. Tetapi ketika si ayah sedang bekerja, ibu lah yang memiliki banyak waktu bagi anak-anaknya. Ibulah sekolah pertama bagi anak-anak.

Jadi intinya, menurut saya sederhana saja lah. Suami menjalankan tugas dan perannya dengan baik, istri juga menjalankan tugas dan perannya dengan baik. Masing-masing fokus dengan job desk nya, maka saya yakin kebahagiaan akan mudah di dapatkan.

11 Desember 2013

Talawi-Sawah Lunto

Iklan

3 comments on “Istri fulltime, Ibu fulltime

  1. Little Light
    19 Desember 2013

    sebaik-baik karir :’-)

  2. alvinopavsplvino
    19 Desember 2013

    Alhamdulilah, setiap insan dpt memilih jalan hidup masing2. Mudah2an, apa pun yg dipilih, mendapat berkah dan ridha dari Allah swt., dengan jalan melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing2 dengan amanah, amanah, dan amanah…. 😉

  3. pramudyaarif
    22 Maret 2014

    tinggal kapan RIdwan bisa memberikan pelajaran?..#eh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 Desember 2013 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: