.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Menyikapi Sesuai Sifatnya

 

Diantara sikap adil adalah : menyikapi sesuatu sesuai dengan sifatnya. Sepakat ?

Dunia itu mungkin, akhirat itu pasti. Apa yang belum terjadi sekarang sampai mati, itu baru kemungkinan-kemungkinan.

Punya adik kelas 6 pinter, jenius, yang mau ujian ; belum tentu lulus. Bisa saja mau ujian di-“smack-down” temannya atau kena demam berdarah ; mati.

Mahasiswa belum tentu jadi sarjana, tidak sedikit yang masih KKN mati, atau baru osiapaek udah meninggal, dihajar seniornya.

Orang yang pacaran belum tentu nikah dengan pacarnya. Yang menikah dengan pacarnya juga belum tentu harmonis dengan rumah tangganya.

Sekali lagi, dunia itu mungkin, akhirat itu pasti.

Dunia itu mungkin, tapi namanya mati pasti.

Hidup lagi setelah mati itu pasti. Adanya surga dan neraka itu pasti.

Siapa masuk surga pasti mulia dan bahagia, siapa masuk neraka itu pasti hina dan menderita.

Dunia itu belum tentu. Orang kaya belum tentu lebih bahagia dari orang miskin

Dunia itu belum tentu. Tidur di hotel mewah belum tentu lebih nyenyak daripada tidur di atas jok becak bubrah.

Dunia itu belum tentu. Makan di restoran mewah belum tentu lebih nikmat dibanding di pinggir sawah.

Dunia itu belum tentu. Yang cantik belum tentu lebih laku duluan dari yang tdk cantik.

Sampai di sini sepakat kan? Bahwa : Dunia itu sifatnya mungkin, akhirat itu sifatnya pasti. Lalu bgmn menyikapi keduanya itu ?

Al Quran memberi petunjuk cara menyikapi keduanya. Buka Surat Al Qashas ayat 77. Cekidot

Dan carilah pada apa yang tlh dianugerahkan Allah kpdmu (kebahagiaan) negeri akhirat, & jgnlah kamu melupakn bahagianmu dr kenikmatan) duniawi

“Carilah pd apa yang tlh dianugerahkan Allah kpdmu (kebahagiaan) negeri akhirat, & jgnlah kamu melupakn bahagianmu dr kenikmatan) duniawi “

“Kejar yang pasti, jangan lupakan yang mungkin!”. Cari akhirat, tapi tidak lupa dunia. Itu logika yang diinginkan oleh islam. Catat!

Kejar yang pasti , jangan lupakan yang mungkin. Begitu perintah Al Quran.

Dalam bahasa petani : Dunia nilainya seperti rumput, akhirat itu nilainya seperti padi.

“Sapa wonge nandur pari,bakal katutan suket. Sapa wonge nandur suket, tangeh lamun panen pari,suket wae rung mesti thukul kaya sing diarep2”

“Siapa yang sungguh2 menanam padi,ia akan mdpt rumput. Tp jk hny sibuk menanan merumput,jgnkn panen padi,rumput pun blm tentu tumbuh siapat yang dihrpkn”

Siapa mnanam padi, rumput ikut.Itu rumusnya.Nasib org yang berorientasi akhirat, dunianya pasti akan dpt.Berorientasi akhirat dg benar tentunya.

Tapi sebaliknya, jika berorientasi dunia, ia akan sibuk mencari tapi tidak sempat menikmati.

Sibuk mencari makan, tapi tidak sempat makan. (penjual gudeg yang laris itu misalnya)

Sibuk membangun rumah tapi tidak pernah di rumah. Tau-tau dipenjara KPK

Sibuk meniti karir lupa menikah. Sempat menikah tapi sepakat tidak serumah (karena masing2 kerja, di tempat yang terpisah).

Banyak jg yang serumah, tp tdk sempat ramah. Kl ketemu sdh saling lelah, kerjanya cm marah2. Keduanya sama-sama kerja tapi tidak kerja sama.

Jangan sampai gara-gara terlalu cinta dunia sampai2 lupa akhirat.

Sekali lagi, kejar yang pasti, jangan lupakan yang mungkin. Kejar akhirat, jangan lupakan dunia. Mari perbaiki diri.

 

unduhan

Catatang ngaji @kangridwan, pemateri : Ustadz Didik Purwodarsono

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 6 Februari 2014 by in ngaji yuk.
%d blogger menyukai ini: