.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Alfamart dan 1100 Rupiah

 

 

Siang itu saya membeli sabun cair di Alfamart yang ada di kantor saya. Di rak tempat barang-barang disusun terdapat label harga. Harga sabun cair ini tertera 6.100 rupiah. Kebutuhan saya saat itu hanya sabun, jadi yang saya ya hanya sabun.

Setelah menunggu antrian di kasir, tiba giliran saya membayar. Uang saya sepuluh ribuan. Sebelum pergi dari kasir saya cek dulu struk pembayaran. Lho kok disitu tertulis 7.200 rupiah. Kalau memang harganya lebih mahal sedikit dari toko sebelah itu tidak masalah. Memilih beli di sini ya harus sepakat dengan harga di sini. Tapi ini beda urusan.

Di rak tertulis 6.100 tetapi membayarnya 7.200. Jadi ini yang betul yang mana? Dari sudut pandang konsumen tentunya yang benar ya yang tertera di rak. Karena pembeli ketika mengambil barang tentunya mempertimbangkan harga yang tertera dan ketika yang dibayarkan ternya berbeda dengan yang tertera di rak ini jelas bermasalah.

Daripada saya menduga-duga kalau ini penipuan, atau kesengajaan, saya memilih untuk melakukan klarifikasi. Bisa jadi ini ketidaksengajaan. Namanya juga manusia, ada kemungkinan lupa & salah. Dan kewajiban bagi yang sadar akan hal itu adalah untuk mengingatkannya.

“Ini harganya 7.200 mas? Padahal di rak 6.100 lho” tanya saya dengan ramah

“Oya? Itu kami lupa belum mengganti mas. Yang benar 7.200” jelasnya sambil menuju arah rak, mengecek harga di situ.

“Kalau begitu, segera di ganti mas, kasihan kalau ada pembeli lain. Dikira bohong nanti”

Ketika saya menuju pintu keluar, petugas Alfamart itu menghampiri saya dan memberikan kembalian 1.100 rupiah ke saya. Saya ucapkan terimakasih.

alfamarttt

**

Saya berbagi cerita ini kepada teman-teman saya dan mereka ternyata sering mengalami kejadian seperti saya. Harga di rak berbeda dengan harga di kasir. Ada juga yang kembalian yang diberikan tidak sesuai dengan yang seharusnya.

“Saya ikhlasin, itung-itung sedekah”

“Cuma segitu kok, ga masalah lah”

Kepada teman saya yang berpendapat seperti itu, saya tidak sepakat. Menurut saya, mendiamkan suatu kesalahan, merupakan suatu kesalahan. Titik tekannya bukan pada uang kembalian (yang mungkin dengan mudah diikhlaskan karena nilainya kecil), tetapi pada nilai kejujuran, pada suatu kebenaran.

Mengikhlaskannya dengan alasan sedekah menurut saya juga tidak tepat. Sedekah ya diniatkan dari awal, bukan karena by accident. Coba kalau nilai kerugian rupiahnya tidak berbilang ratusan, atau ribuan, tapi lebih itu. Tidak mungkin semudah untuk menyedekahkannya. Lagipula kalau sedekah ya lebih baik disalurkan kepada yang jelas. Misalkan kembalian receh itu lalu dimasukkan ke kotak amal.

Kita diperintahkan untuk saling menasehati dalam kebenaran (wa tawashoubil haq). Jika kita mengetahui ada yang salah dan kita diam saja itu merupakan kesalahan, apalagi kita memiliki kemampuan untuk mengoreksi kesalahan itu. Ketika sebuah kesalahan dibiarkan lalu dianggap wajar, akan semakin sulit untuk memperbaikinya.

 

Sibolga April 2014

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 April 2014 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: