.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Sebisa Mungkin  

Terjadilah sebuah diskusi menarik di antara kami mengenai boikot terhadap produk pro Zionis, produk yang mengalirkan dana kepada Israel. Ketika seorang kawan berkampanye anti produk pro Israel ada kawan lain yang menanggapi : Sebelum kampanye anti produk israel coba dicek keperluan kamar mandinya dulu.

“Alhamdulillah, gak ada satupun unilever, begitu juga di dapur gak ada danone”

“Hp? Laptop? Operating system laptop?”

“Ga ada, kalau pun ada itu bajakan”

“Kendaraan?”

“Emang Honda nyumbang Israel juga?”

“Film?”

“Maksudnya?”

“20th Century Fox”

“Ya ga bisa 100%, ya 95% lah”

Diskusi menjadi semakin panas. Kawan saya yang pertama ini seperti diintrogasi, dicari kalau ada produk pro zionis yang pasti masih dia pakai.

“Mereka emang punya daya saing yang tinggi, kalau kita cuma bicara boycot tanpa ada alternatif atau solusi buatku ya cuma tindakan pengecut. Mau hidup ala suku primitif?”

“Tindakan berani itu ya turun ke lapangan, buat produk alternatif dengan daya saing setara atau lebih baik dari mereka”

Seakan terbentuklah 2 kubu. Kubu pro boikot dan anti boikot. Alasan mereka yang tidak sepakat dengan boikot adalah karena akan percuma kalau tidak diiringi dengan membuat produk alternatif yang memiliki daya saing toh akhirnya akan kembali menggunakan barang itu lagi. Pengecut.

Namun disinilah menariknya diskusi. Kalau semua satu pendapat tak akan ada adu argumen, tak ada sudut pandang lain.

boikot

Tentang boikot ini merupakan strategi pelemahan lawan. Intinya disitu, bukan pada boikotnya. Zaman sekarang mungkin dampak dari boikot tidak sesignifikan dulu. Satu orang mungkin tidak ngefek, tapi siapa tahu kalau banyak orang jadi ngefek.

Mungkin istilah boikot terlalu ekstrim. Bahasa simpelnya mungkin: Berusaha utk tidak menggunakan produk pro israel, sebisa mungkin. Biasanya menggunakan 10 produk, sekarang menjadi 8 pun sudah lebih baik.

“Sebelum kampanye anti produk israel coba dicek keperluan kamar mandinya dulu”. Berarti kalau masih menggunakan, jangan sekali-kali teriak boikot.  Saya kurang sepakat dengan hal ini. Ini seakan-akan sama dengan : kalau belum bebas dari dosa, jangan mengajak kebaikan deh. Kalau bukan ustadz jangan ngajak solat deh.

Tidak ada manusia yang sempurna, begitu pula dengan apa yang dilakukannya. Maka kita tidak dituntut untuk sempurna dalam melakukan kebaikan, ataupun mencegah keburukan.

Solat tidak bisa berdiri, boleh duduk. Tidak bisa duduk boleh berbaring. Hanya bisa berkedip juga boleh. Yang penting jangan sampai meninggalkan solat.

Mencegah kemungkaran tidak bisa dengan tangan (tindakan/kekuasaan), boleh menggunakan lisan, tidak bisa dengan lisan boleh dengan hati yang menolaknya. Yang penting jangan mengiyakan, apalagi mendukung kemungkaran.

“.. Fattaqulloha mastatho’tum…”.

Maka bertaqwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu (QS A-Taghobun : 16)

Do it as best as you can.

Lakukanlah sebisa mungkin bisa kamu lakukan.

 

Medan, 27 Agustus 2014

Iklan

One comment on “Sebisa Mungkin  

  1. maisyarahpradhitasari
    2 September 2014

    ijin share ya mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 Agustus 2014 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: