.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Bapak Ibu Saya Berangkat Haji

Bapak Ibu saya tahun ini berangkat haji. Awalnya, saya tidak berencana untuk pulang ketika orang tua saya berangkat. Alasan pertama, saya kerja belum ada satu tahun, belum bisa cuti. Alasan kedua, untuk pulang kampung dari Medan ke Kutoarjo memerlukan biaya yang tidak kecil.

Setelah menikah, istri saya bawa ke Medan. Saat itu sudah saya sisihkan uang untuk pulang kampung. Opsinya ada dua, mau pulang kampung saat lebaran atau saat bapak ibu berangkat haji. Kami putuskan saat lebaran saja. Selain ada cuti bersama, juga bisa berkumpul dengan keluarga besar. Lebaran sudah pulang, anggaran sudah digunakan.

Maka, saya pun sudah dimaklumi kalau tidak bisa pulang ketika bapak ibu berangkat haji. Waktu lebaran, saya pamit sekalian.

Di kampung saya, kalau naik haji biasanya mengadakan acara semacam pengajian. Pengajian ini dan itu. Lalu tetangga, rekan kerja, saudara dan handai taulan pada bertamu ke rumah. Mereka mendoakan sekaligus nitip doa pada si calon haji. Itu saja belum cukup, masih ada lagi acara pelepasan mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten.

Itulah yang dialami orang tua saya. Belum berangkat haji saja sudah capek. Capek tapi bahagia. Bahagia karena banyak yang peduli, banyak yang memberikan penghormatan. Belum berangkat saja sudah bahagia, apalagi jika sudah sampai di tanah suci.

haji

Bapak & Ibu Pamitan

Begitulah, tiap kali saya menelpon Bapak atau Ibu, seakan saya bisa merasakan kesibukan mereka di rumah menjelang keberangkatan. Seakan ada hajatan besar, melebihi hajatan apapun yang pernah dilakukan di rumah saya. Saya terpanggil untuk pulang.

Lalu saya berpikir, sepertinya saya harus pulang. Banyak yang datang ke rumah, anak sendiri kok tidak kelihatan. Meski semua pasti sudah memaklumi, tapi saya yakin kepulangan saya akan membuat mereka bahagia. Duit bisa dicari lagi, tapi senyum bapak ibu sebelum berangkat haji karena kedatangan anaknya tidak akan terganti.

Alhamdulillah, atasan di kantor memberi izin, Istri pun mendukung : pulang lah, Mas.

Jumat (26/9) malam, acara keberangaktan Bapak Ibu saya. Setidaknya Jumat siang saya harus sudah ada di rumah. Kamis siang saya terbang naik pesawat ke Jakarta. Kamis malam lanjut naik kereta api ke Kutoarjo. Jumat pagi alhamdulillah sudah sampai rumah. Perjalanan yang melelahkan, lebih-lebih hari rabu sebelumnya saya baru pulang dari Nias.

Rumah sudah dipasang tenda, kursi-kursi sewa siap ditata, ibu-ibu tetangga sudah mulai memasak di dapur belakang. Beberapa saudara sudah datang di rumah ikut membantu ini dan itu. Saya pun juga ikut kebagian menata ini, menyiapkan itu.

Malam tiba, tamu-tamu berdatangan. Kursi di halaman penuh oleh bapak-bapak. Teras rumah penuh oleh ibu-ibu. Mereka yang datang ini tetangga, saudara, teman kerja, dan lain-lain. Rumah saya terlihat ramai dari biasanya. Acara dimulai.

Jpeg

 

Jpeg

Bapak dan Ibu maju ke depan, bapak yang berbicara menggunakan bahasa jawa dengan berwibawa. Intinya mohon diikhlaskan jika ada salah, mohon doa agar lancar ibadah hajinya, dan titip rumah pada tetangga. Pak Kyai membaca doa, lalu ada yang adzan. Sambil menuju ke mobil, bapak dan ibu menyalami satu persatu para tamu yang telah berjajar di pinggir jalan.

Dua mobil utama membawa Bapak Ibu dan keluarga inti. Dua minibus disewa untuk para tamu yang mau ikut mengantar sampai Purworejo. Mungkin ada yang bilang lebay. Berangkat haji aja kok heboh seperti itu. Tapi ya beginilah tradisi di kampung saya. Orang-orang begitu ingin menghormati tetangga atau saudara yang mau berangkat ziarah ke tanah suci.

Banyak yang titip doa kepada bapak ibu saya. Ada yang nitip doa supaya enteng jodoh, anaknya sehat, agar begini, supaya begitu. Ada yang disampaikan langsung, ada yang ditulis di kertas. Saya pun juga menitipkan kertas berisi doa beberapa kawan saya. Kalaupun tidak sempat, setidaknya bapak saya bisa berdoa dengan singkat : “Ya Allah, di tanah yang suci ini, hamba memohon kabulkanlah doa yang tertulis di kertas ini”

Sabtu sore saya kembali lagi ke Jakarta naik kereta api. Ahad pagi sudah sampai di bandara. Saya telpon Bapak & Ibu yang mana juga sedang di bandara Solo siap berangkat.

“Doakan Ibu bisa lancar ibadah hajinya, ya” kata Ibu saya

“Insya Allah, kami selalu medoakan, Bu”

Sementara orang-orang menitip doa ini dan itu kepada Bapak Ibu saya, saya tidak meminta doa spesifik. Hanya minta doa, begitu saja. Tanpa dimintapun Bapak Ibu saya sudah pasti mendoakan anak-anaknya, dan itu sudah dilakukannya sejak saya belum lahir bahkan.

Maka ahad pagi itu kami sama-sama terbang dari Jawa. Orang tua saya berangkat ke tanah suci, saya berangkat ke tanah rantau. Orang tua saya melaksanakan ibadah haji, saya melaksanakan ibadah sehari-hari.

Selamat Jalan, Bapak & Ibu tercinta. I love you

Jpeg

Medan, 28 Sept 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30 September 2014 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: