.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Saya, Aku, Gue

Belakangan saya memperhatikan beberapa blog atau tulisan yang sering berseliweran alias nampang di depan saya, entah itu melalui hape ataupun laptop, menggunakan bahasa gaul. Khususnya penggunaan kata “Gue” untuk penyebutan orang pertama. 

Penggunaan “gue” atau malah sering lebih hemat lagi penulisannya menjadii “gw” tidak membuat susunan kalimat menjadi alay, justru membuat terasa cair. Anak muda banget. Makna kalimat tidak menjadi rusak gara-gara “gue”, yang ada malah semacam keakraban sesama anak muda. Penggunaan “gue” belakangan makin popular.

Hal ini tidak lepas dari penggunaan “gue” dalam percakapan keseharian. Menyapa kawan, ngetwitt, nyetatus FB, nge-Path, dll. Sesuatu yang sering kita temui, meski awalnya aneh, lama-kelamaan akan menjadi wajar. Tentunya “gue” tidak sendirian. Ada “lu”, “bokap”, “nyokap”, dan kawan-kawannya. Namun kali ini, saya tertarik dengan “gue”.

s

Status BBM istri Gue, keren!!

Gara-gara sering membaca tulisan dengan menggunakan kata ganti orang pertama “gue”, saya sesekali juga menggunakan kata ganti itu. Meski saya sendiri masih merasa kurang nyaman. Secara gitu loh, saya ini bukan anak gaul yang sering ngomong “lu” “gue”.

Ketika saya menggunakan kata “gue”, saya merasa menjadi lebih gaul. Lebih menyasar anak muda. Semacam gaya tulisannya Raditya Dika, Arham Kendari, statusnya Maula, blognya Angsa Jenius.

Penggunaan “aku” saya gunakan untuk tulisan yang berasa sastra, percakapan imajiner, renungan, syair atau semacam puisi lah. Biasanya “aku” selalu berpasangan dengan “kamu”. Semacam tumblr nya MasGun lah.

Contoh penggunaan "Aku"

Contoh penggunaan “Aku”

Nah, “saya” yang paling sering saya gunakan, sebagaimana di tulisan ini. Untuk bercerita atau beropini, saya lebih merasa nyaman menggunakan pilihan kata ini. Serasa lebih bisa ngobrol dengan siapa saja, berapapun usianya. Selain itu, saya ingin menggunakan bahasa indonesia yang baik. Penggunaan “saya” tidak selalu berasa kaku, Prie GS selalu menggunakan “saya” dan tetap bisa lucu. Bahkan lucunya bermakna.

Begitulah saya memperlakukan “Saya”, “Aku”, dan “Gue”, setidaknya untuk saat ini. Masing-masing ada penggunaannya. Itu menurut saya pribadi, sebagai penikmat dan pengguna bahasa.

Atau mungkin ada teori tersendiri yang saya tidak tahu. Siapa tahu sejak terakhir saya belajar bahasa Indonesia, sudah ada update teori ini itu. Atau mungkin di KBBI yang sekarang sudah ada kosa kata “Gue”. Saya tidak tahu, lebih tepatnya belum tahu.

 

Medan, 13 Okt 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Oktober 2014 by in opini.
%d blogger menyukai ini: