.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pakai Sarung ke Mall

sarung ke mall

Baru saja saya pulang dari Masjid setelah sholat Isya, istri saya mengajak ke Mall. Lebih tepatnya Supermarket. Entah apa beda kedua kosa kata itu, anggap saja sama. Ada barang yang mau dibeli istri saya yang belinya musti di situ.

“Di Alfamart atau Indomaret ga ada, Dek?”

“Ga ada Mas”

Daripada ngecek satu persatu Alfamart, Indomaret, dan warung kelontong di sepanjang jalan dekat rumah, yang belum tentu ada barangnya, mending ke yang sudah pasti ada. Tujuan dan sasaran jelas. Sekalian jalan-jalan, pacaran malam-malam.

“Ayo berangkat, sekarang” ajak saya

“Lho, Mamas mau pakai sarung?”

“Iya lah”

“Serius?”

“Ciyus”

“Nggak malu?”

“Ngapain malu?” Saya merasa tertantang

Saya belum melepas sarung dan baju batik yang saya gunakan ke Masjid. Sesekali tak apa lah, mencoba ke Mall memakai sarung. Apa salah? Belanja menggunakan sarung. Sarungnya tidak bau, tidak juga bolong, yang memakai pun ganteng.

“Serius Mas?” Istri saya yang sudah siap berangkat, masih belum percaya dengan rencana saya.

“Ya serius lah”

“Nanti tak jadiin status FB lho” Entah dia mengancam, atau menyemangati.

“Iya, nanti jangan lupa Mamas dipoto ya, biar lebih nendang statusnya. Orang-orang sekarang kan katanya kalau no photo = hoax”

Sampai di Mall, saya berjalan cuek. Sembari menunggu istri mencari barang yang akan dibeli, saya menunggu sambil duduk. Sesekali saya jalan-jalan juga melihat-lihat barang dagangan yang disusun rapi. Melihat barangnya dan melihat harganya. Melihat tanpa menyentuh, hihi.

Di sini banyak barang-barang impor. Mulai dari cemilan hingga cepuluh buah-buahan (buah beneran lebih tepatnya). Barang-barang singapura, malaysia, vietnam, itu baru yang sempat saya lihat. Padahal ini masih tahun 2014, bagaimana nanti tahun 2015 ketika AFTA (Perdagangan bebeas ASEAN) sudah diberlakukan?

Eh maaf, pembahasannya jadi mulai OOT (Out Of Topic). Kita kembali ke sarung.

Akhirnya, belanja selesai. Barang incaran istri saya sudah terbeli. Sembari kembali ke arah parkir, saya coba tanya istri saya yang saya tugaskan memperhatikan reaksi orang-orang melihat saya menggunakan sarung.

“Tadi setelah Mamas lewat, ada yang ketawa cekikikan sambil nunjuk ke Mamas. Trus ada lagi yang ngelihatin pas Mamas lewat”

Sayangnya istri saya tidak melakukan wawancara eksklusif seperti acara reality show di TV. Dia hanya melakukan pengamatan. Tapi sepertinya bisa disimpulkan dengan yakin kalau saya terlihat aneh. Mungkin menggunakan sarung terlihat kampungan, meski dipadukan dengan pakaian batik. Atau bisa jadi mereka takjub & terpesona dengan saya dan sebenarnya ingin ngajak poto bareng tapi malu.

Kalau di Jawa Timur, di Surabaya sekalipun, bukan hal yang aneh melihat santri ke mall menggunakan sarung, peci & sandal jepit. Di sana banyak santri. Ya, sarung memang identitas santri. Mereka nyaman menggunakan sarung (yang memiliki multifungsi). Tapi sayangnya saya ada di Medan, bukan di kota santri.

Tapi biarlah.

Yang pakai celana hotpan, pakai rok mini, pakai baju yang kelihatan ketiaknya saja Pede ke Mall, masak pakai sarung malu? Toh orang keren tetep terlihat keren meski memakai sarung.

Sarung adalah bahasa perlawanan terhadap standar kekerenan yang dibuat sedemikian baku oleh orang barat

(Aep, 2014)

Seperti itulah cerita saya kali ini. Eksperimen ini tidak bertujuan tulus untuk membuat sebuah gebrakan, sok-sokan tampil beda, unjuk keberanian, berani anti mainstream, atau alasan heroik lainnya. Jadi, belum ada rencana untuk melakukannya di mall-mall lainnya.

Saya beritahu, meski ini sebenarnya agak sedikit rahasia : Awal cerita ini bermula sebenarnya dari saya yang malas ganti celana panjang dan sudah kadung nyaman memakai sarung.

Heuheu

 

Medan, 29 Oktober 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30 Oktober 2014 by in kisahkami, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: