.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Honda Jazz

Sekitar 3 bulan yang lalu, katika kami sedang boncengan naik motor, di tengah jalan, istri saya melihat mobil honda jazz, lalu bilang pengin mobil honda jazz.

“Mending naik angkot aja, Ay. Mobilnya bisa ganti tiap hari, sudah ada yang nyupir pula. Bahkan di Medan angkotnya terkenal ga lama ngetem, ga kenal macet, ga kenal lampu merah” canda saya.

“Kok kita berkali-kali papasan mobil jazz ya, Mas?” katanya dengan nada penuh kode.

“Tuh, ada angkot lagi. Warnanya ada yg merah, biru, kuning. Lebih sering papasan angkot kayaknya deh” saya merasa menang.

Akhirnya saya kena cubit. Untung motor kami tidak oleng.

Dalam hati, saya berdoa semoga kapan-kapan bisa nyenengin istri dengan mobil jazz.

**

 

jazz

Alhamdulillah, setelah hampir setahun bekerja keras menjadi pegawai PLN, akhirnya bisa membeli sepatu cokelat yang saya pakai. Terimakasih PLN

Berkendara di Medan memang terkadang menyebalkan. Sering macet di jam padet, ditambah lagi para pengendara banyak yang tidak mau mengalah. Lampu merah sering diterobos. Naik mobil lumayan rentan nabrak atau ketabrak. Untuk menyetir di jalanan Medan, membutuhkan level nyetir yang setara dengan supir angkot, atau senekat emak-emak.

Maka saya belum ada minat untuk membeli mobil. Mending naik motor, atau naik angkot saja.

Tapi sebenarnya alasan utama bukan itu sih. Sebenarnya karena belum uang untuk beli mobil saja. Sementara itu ada banyak kebutuhan yang lebih prioritas. Bahkan, untuk menabung beli mobil pun belum terpikirkan.

Di Medan, alhamdulillah kami akrab dengan kawan-kawan pengurus ODOJ. Ketika ada event, tidak jarang kami membantu. Dari situlah, akhirnya saya terpaksa memberanikan diri nyetir mobil di jalanan Medan. Terpaksa karena kalau menolak rasanya malu. Ini tentang harga diri. Hehe

Saya diminta nyetir mobil, yang meminta istri saya disaksikan akhwat-akhwat kawannya. Bagaimana bisa menolak. Maka saya terima job itu. Nyetirlah saya dengan perasaan khawatir. Pertama karena mobil orang lain, kedua karena mobilnya lumayan bagus (tidak seperti angkot2 yg sudah pantas dimusiumkan), ketiga karena ini jalanan Medan. Ketiga alasan itu membuat resiko semakin besar.

Tapi lama-lama nyetir mobil di jalanan Medan rasanya jadi terbiasa. Ternyata tidak seperti yang dikhawatirkan. Kita memang terlalu sering mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti, yang membuat ragu , lalu menghantui langkah kita. Padahal kenyataannya tidak se-horor yang kita khawatirkan. Ah, ini berlaku untuk banyak hal dalam hidup, tidak hanya tentang nyetir mobil.

Hingga beberapa hari yang lalu, sepulang kantor, saya diajak istri saya mengantar barang-barang baksos untuk dikirim via ekspedisi. Barang-barangnya sudah di dalam mobil, dan mobilnya sudah di depan rumah. Wita, si empunya mobil, sedang ada acara ngajar les. Jadi, sore itu kami berdua naik mobil menikmati jalanan Medan. Iya, kami berdua. Betapa menyenangkan, bukan? Pacaran tanpa modal? Haha

Dan oiya, mobil itu honda jazz !!

Allah mengabulkan doa saya tiga bulan yang lalu. Alhamdulillah, saya bisa menyenangkan istri saya dengan jalan-jalan berdua naik honda jazz. Bagi beberapa orang, mungkin itu hal biasa. Tapi bagi kami, yang orang kampung ini, itu cukuplah membuat bahagia. Sementara belum punya mobil sendiri, mobil kawan pun bisa kami nikmati.

jazz_ridwan dhian

Mumpung yang punya ga lihat, Nyelfie dulu :p

Wahai, untuk menikmati bahkan kita tidak harus memiliki. Betapa banyak orang-orang kaya yang memiliki rumah megah, mobil mewah, villa indah, tapi mereka tak bisa menikmati itu semua. Malahan pembantunya yang menikmati rumah megah itu, atau orang kampung yang dipasrahi untuk jaga villa yang menikmati keindahan villa itu.

Ya ampun, bahkan sesungguhnya semua yang kita nikmati di dunia ini bukan milik kita. Semua milik Allah, kita hanya dikasih kesempatan untuk menikmatinya selama di dunia. Yang bahkan sewaktu-waktu bisa Dia cabut nikmat tersebut, kapan saja.

Ow mak, saya jadi tersadar, musti merasa banyak-banyak bersyukur. Bersyukur menjadi pegawai PLN, bersyukur memiliki keluarga yang memberi penuh kasih sayang, bersyukur memiliki istri yang sholehah (dan selalu berusaha menjadi lebih sholehah), bersyukur dipertemukan dengan kawan-kawan yang baik hati, dan seterusnya dan seterusnya. Tak akan pernah selesai jika ditulis seluruhnya.

Termasuk bersyukur dipinjami Wita, Honda Jazz nya.

Medan, 8 Februari 2015

Iklan

2 comments on “Honda Jazz

  1. izzatyzone
    13 Februari 2015

    Alhamdulillah ya mas~ lucu deh mas sama mbak ini :3
    salam buat mbak nya :3

  2. Afdil
    13 Februari 2015

    alhamdulillah .. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Februari 2015 by in About Medan, kisahkami.
%d blogger menyukai ini: