.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Tiga Per Empat Puluh

Masjid Kauman, Medan Helvetia

Masjid Kauman, Medan Helvetia

Kemarin merupakan hari ketiga, dari misi empat puluh hari berturut-turut. Jika sampai satu hari saja gagal, maka dihitung mulai dari awal lagi. Mirip seperti adik saya yang dulu pernah sakit flek alias paru-paru basah, obatnya harus diminum berturut-turut selama dua bulan tanpa putus. Sekali saja bolong, menghitungnya musti dimulai dari awal .

Namun ini bukan tentang minum obat. Ini tentang berusaha mengamalkan ilmu yang didapat dari pengajian. Hari Ahad lalu, Komunitas Pejuang Subuh Medan mengadakan kajian tentang keutamaan sholat beramaah, dengan pemateri Ustadz Surianda Lubis.

Beliau menyampaikan salah satu hadits nabi yang berbunyi :

“Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.”

Ini menjadi semacam tantangan bagi saya. Bukan tantangan yang ringan. Bahkan ini lebih berat dari mendaki gunung. Lima gunung yang pernah saya daki sepertinya tak ada apa-apanya dibanding tantangan ini. Hadiahnya pun lebih menggiurkan dibanding sekedar naik gunung.

Tantangan ini membutuhkan niat yang kuat dan tekad yang bulat. Belum lagi tidak hanya berlaku sehari atau dua hari, tapi 40 hari. Dalam jangka waktu itu, 5 x dalam seharinya harus mengkondisikan agar maksimal ketika iqomah, posisi sudah di Masjid. Lebih aman, ketika azan berkumandang posisi sudah stand by di Masjid. Dan yang perlu ditekankan, harus konsisten selama 40 hari.

Dijelaskan juga, selama menunggu waktu sholat di masjid, dihitung pahalanya seperti ribath (berjaga-jaga di medan jihad). Betapa menggiuarkan bukan? Menggiurkan ini hanya berlaku bagi yang mengimaninya, bukan sekedar mengetahuinya.

Kalau hanya sekedar tahu, banyak yang tahu. Misal, semua atau kebanyakan orang tahu jika keutamaan shalat berjamaah 27x lipat daripada sholat sendiri. Tapi mengapa masih ada niat dalam hati untuk sholat sendiri? Ya karena tahu hanya sekedar tahu.

Kembali lagi ke topik utama kita.

Selama 3 hari, saya merasakan sebuah perjuangan yang berat. Jika sebelumnya kepikiran untuk bersiap-siap sholat ketika terdengar adzan berkumandang, kini masih setengah jam pun kepikiran. Ketika sedang rapat di kantor dan mendekati waktu dhuhur, rasa-rasanya was-was jangan-jangan terlewat mendapatkan rakaat pertama. Ketika perjalanan pulang kerja mendekati waktu maghrib, harus merencanakan sholat di masjid mana, sebelum sampai rumah.

Rasa-rasanya memang agak merepotkan. Repot tapi asik. Asik sekaligus bersemangat. Bersemangat yang bermutu. Bermutu yang (InsyaAllah) berpahala.

Di awal tulisan, mengapa saya menggunakan kata “kemarin”. Karena saya akui, hari ini saya gagal. Makanya judul tulisan ini 3/40. Dari empat puluh hari, baru tercapai tiga hari.

Mengapa hari ini gagal? Karena saya bangun pagi kurang awal, persiapan kurang matang. Berangkat ke masjid sudah mandi & wangi, tapi belum sempat nongkrong karena keburu terdengar adzan. Ketika Iqomah, posisi sudah dalam barisan. Tidak terlambat lah. Tapi, tiba-tiba semua berubah ketika negara api menyerang perut terasa bergerjolak, tak kuat menahan panggilan alam. Akhirnya keluar barisan dan memenuhi setoran pagi. Ketika kembali lagi ke barisan, sudah tertinggal satu rakaat.

Fiuuuh.. Besok menghitung ulang lagi dari satu.

**

“Terus kalau sudah berhasil 40 hari berturut-turut, mau gimana? Nyantai lagi?”

Jangan tanya “kalau”, tapi jalanin dulu sampai selesai. Ini saja baru tiga hari udah ngulang lagi dari awal karena gagal. Fokusnya ke usaha, agar tercapai misinya. Misinya adalah shalat berjama’ah 40 hari dengan mendapatkan takbiratul ihramnya imam.

“Lha kalau sudah berhasil 40 hari shalat berjamaah dengan mendapatkan takbiratul ihramnya imam,  mau gimana? Kan udah dapet kebebasan tuh, kebebasan dari api neraka dan sifat munafik?”

Oke-oke,

Kalau berhasil 40 hari, yaa lanjut 40 hari berikutnya dan lanjut 40 hari berikutnya, dan seterusnya. Pasti rasanya tidak seberat 40 hari yang pertama.

Semoga bebas dari api neraka dan sifat munafiknya, tidak hanya 40 hari.

 

Medan, 17 April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17 April 2015 by in hikmah.
%d blogger menyukai ini: