.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Bertemu Ustadz Musholli

Ustadz Musholli

Ustadz Musholli. Bagi kami yang pernah menjadi peserta PPSDMS Nurul Fikri, beliau merupakan sosok yang pemikirannya banyak berpengaruh kepada kami. Jika tokoh nasional Soekarno, Muso, Kartosuwiryo dan Tan Malaka  pernah berguru kepada Tjokroaminoto di kosnya, maka Ustadz Musholli ini merupakan sang guru bagi kami di ppsdms.

Beliau selalu memberi kami nasehat, agar menjadi seorang muslim yang bersikap obyektif, moderat, open mind, dan rendah hati. Menjadi SDM strategis yang mencintai bangsa ini dengan memberikan kontribusi terbaik. Dengan harapan agar terbentuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta mendapatkan kebaikan dari Allah, pencipta alam semesta.

Saya terakhir ketemu beliau tiga tahun yang lalu, ketika National Leadership Camp (NLC)  sekaligus menandakan selesainya masa pembinaan PPSDMS angkatan kami. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi bertemu beliau.

Hingga kemudian muncul rasa rindu. Rindu seorang murid kepada gurunya. Rindu seorang anak kepada Bapaknya. Ya, beliau bisa dibilang merupakan bapak ideologis kami.

Waktu terus berjalan, takdir mengantarkan saya bekerja dan tinggal di Medan. PPSDMS terus berkembang. Namanya kini berubah menjadi Rumah Kepemipinan (RK) dan untuk Regional Medan baru dibentuk setahun yang lalu. Dari beberapa kali ustadz Musholli mengisi Kajian Islam Kontemporer (KIK) di Medan, baru kali ini akhirnya saya berkesempatan ikut hadir.

Selesai shalat tarawih, saya berangkat ke Asrama RK PPSDMS Medan. Sampai di sana, KIK sudah dimulai. Di depan para peserta RK PPSDMS, Ustadz Musholli sedang mengkaji Al Quran, surat Fussilat ayat 33 – 34.

Beliau membahas tentang perang Uhud, beberapa kisah tentang kemuliaan akhlaq Rasulullah dalam berdakwah, betapa indahnya islam.  Lalu mengaitkan dengan kondisi kaum muslimin di Indonesia maupun di berbagai penjuru dunia saat ini dengan segala permasalahannya. Tentunya ditambah bumbu guyonan ala betawi yang sangat khas dari Ustadz Musholli.

“Ustadz, saya Ridwan, alumni regional Jogja angkatan 5”, sapa saya seusai KIK malam itu.

Saya menyalami beliau, lalu kami cipika cipiki. Perasaan hati saya begitu membuncah.

“Masya Allah” beliau jeda sejenak sambil memandang wajah saya dengan senyum khasnya, “Pantesan, dari tadi kok rasa-rasanya kelihatan wajah khas Jogja”

Saya yakin, kalau tidak memeperkenalkan diri, beliau tidak hafal siapa saya. Selain jumlah alumni yang semakin banyak, saya dulu waktu di asrama termasuk peserta yang tidak menonjol dibanding prestasi kawan-kawan lain.

Selesai ngobrol singkat dengan beliau, jam 23.30 saya pamit pulang. Beliau pun butuh istirahat. Sepanjang perjalanan hati saya masih berbunga-bunga.

“Wajah Mamas berbeda, kelihatan sangat bahagia” kata istri saya, sesampai saya di rumah.

**

Besoknya, sehabis subuh saya kembali ke Asrama RK PPSDMS Medan, mengikuti KIK sesi kedua. Tidur yang hanya sebentar tidak membuat mata terasa kantuk. Rasa kantuk itu kalah oleh antusiasme untuk mendengarkan nasehat ustadz Musholli.

Peserta pun berbagai macam kondisinya. Ada yang menyimak, ada pula yang terkantuk-kantuk. Persis seperti dulu ketika saya di posisi mereka. Rasanya, semacam nostalgia.

Hingga ketika KIK akan ditutup, Ustadz Musholli bercerita banyak kepada peserta, tentang cita-cita mulia institusi PPSDMS, tentang pengorbanan keringat dan darah, tentang keyakinan bahwa Allah bakal bantu. Cerita yg serius dan membuat suasana hening dan menjadi haru.

“Terimakasih buat bang Andi (manajer), bang Abdullah (supervisor). Juga akhuna Ridwan, beliau ini alumni Jogja angkatan 5 -semua peserta nengok ke saya-, tadi malem bilang ke saya ‘ustadz, sudah 3 tahun ga ketemu, rasanya kangen sama ustadz’ -beliau menirukan kata-kata saya malem sebelumnya-“

Beliau mengucapkannya sambil berkaca2, suasana jadi semakin haru. Beliau lalu menutup wajah dengan tangan, mungkin menyembunyikan air matanya, sekaligus menutup forum dg doa.

* Semoga Allah memberi umur yang panjang kepada beliau, bapak kami, guru kami, ustadz Musholli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 8 Juli 2015 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: