.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Naik Pesawat Terbang

Waktu kecil dulu, tiap kali sedang bermain dengan kawan-kawan lalu ada pesawat terbang di angkasa, kami akan jeda sejenak dari aktivitas kami. Lalu bersama-sama menengok ke langit, sambil melambaikan tangan dengan berbagai macam kalimat yang keluar dari mulut kami. Selalu saja begitu. Takjub. Seketika itu, kami sama-sama bercita-cita menjadi pilot

Itu dulu…

Bagi masyarakat di kampung saya, pesawat terbang merupakan transportasi kelas atas, yang tidak semua orang bisa seenaknya menaikinya. Berat di ongkos. Kalaupun akhirnya naik pesawat, itu biasanya karena berangkat haji. Selain keperluan itu, lebih mending kendaraan darat ataupun laut.

Beberapa tahun belakangan, biaya naik pesawat mulai terjangkau. Banyak maskapai dengan berbagai jalur penerbangan. Mungkin karena semakin banyak saingan, maka harga semakin bersaing pula. Bersaing lebih murah. Bagi masyarakat kita, harga murah merupakan salah satu pertimbangan utama dalam mengambil keputusan.

Dulu, saya membayangkan kalau naik pesawat merupakan hal yang luar biasa. Terbang tinggi, dengan kecepatan tinggi. Berada di atas awan, rumah dan gedung-gedung terlihat begitu kecil. Keluarbiasaan itu tidak hanya terbayang oleh saya, tetapi juga keluarga saya.

Maka tahun 2011 merupakan tahun yang bersejarah. Saya menjadi orang pertama dari keluarga saya yang naik pesawat.

Sudah naik pesawat, gratis pula. Tentu ini luar biasa. Dan bagi orang tua saya hal ini merupakan sebuah kebanggaan. Entah sudah kepada siapa saja mereka ceritakan “prestasi” saya ini. Kakak saya bahkan sampai update status di FB tentang keterbangan saya ini. Ikut bangga.

Waktu itu saya terbang dari Yogyakarta menuju Makassaar. Dibiayai kampus, karena tim saya lolos ke PIMNAS yang pada tahun itu diselenggarakan di Universitas Hasanuddin Makassar.

Seakan satu pesawat diborong oleh UGM, saking banyakknya mahasiswa UGM yang diterbangkan ke Makassar.

Ketika pramugari mempraktikkan simulasi keselamatan jika terjadi kecelakaan, semua memperhatikan dengan seksama. Hingga tibalah pada kalimat :

“Pelampung berada di bawah kursi, tidak untuk dibawa pulang”

Pecahlah tawa di dalam pesawat tersebut. Termasuk saya, ikut tertawa.

Lho, itu kan standar yang rutin selalu dilakukan ketika pesawat akan lepas landas. Oalah, dari situ saya menyadari, ternyata banyak kawan-kawan yang sekatrok saya, sama-sama baru pertama naik pesawat.

Terbang tinggi, dengan kecepatan tinggi. Berada di atas awan, rumah dan gedung-gedung terlihat begitu kecil.

**

Waktu terus berputar. Tahun terus berganti. Takdir mengantar saya menjadi orang yang kerjaannya kesana dan kemari. Status pegawai Jakarta, kantornya di Medan, dinasnya entah kemana-mana.

Dan ya ampun, entah sudah berapa kali saya naik pesawat. Medan, Jakarta, Bandung, Yogya, Pekanbaru, Sibolga, Nias, Banda Aceh, Padang. Bandara di kota-kota tersebut dalam setahun terakhir sudah saya singgahi.

Bahkan seminggu yang lalu, saya melakukan penerbangan pulang pergi dalam sehari. Pagi berangkat Medan – Sibolga. Selesai Rapat, kembali lagi Sibolga – Medan. Subuh meninggalkan rumah, maghrib sampai rumah.

Kini tak ada lagi rasa takjub, tak ada lagi yang spesial pergi naik pesawat. Rasa-rasanya biasa saja, seperti naik angkot. Rasa khawatir ketika lepas landas maupun landing tetap ada, tapi menjadi biasa. Rasa takjub setiap melihat panorama alam selalu ada, tetapi bukan pada naik pesawatnya. Tidak lagi ada keinginan mendengar penjelasan pramugari tentang keselamatan jika terjadi kecelakaan. Sudah hafal.

Dulu saya tidak menyangka bakal sesering ini naik pesawat. Tidak menyangka dan hanya berdoa. Dan yang tidak disangka itu ternyata kesampaian. Yang tadinya hanya angan-angan ternyata jadi kenyataan. Yang tadinya doa, kini terkabulkan. Terkabulnya pun malah melebihi dari doa itu sendiri.

Ketakjuban atas sesuatu di masa kecil dulu, bisa terwujud di masa sekarang. Padahal dulu takjub yang hanya angan-angan, tak ada niatan yang serius untuk mewujudkannya, tapi Allah kabulkan.

Pagi berangkat

Pulang – pergi naik pesawat, dalam sehari

Maka saat ini saya tingkatkan selera ketakjuban saya. Tidak lagi seperti masa kecil dulu. Hal-hal keren tidak lagi sekedar naik pesawat. Keren adalah yang berbau kebaikan, beraroma surga.

Takjub dengan orang yang begitu kaya sekaligus begitu ringan berderma. Takjub dengan seseorang yang hafal Al Quran dan bisa menjelaskan dengan baik ketika orang bertanya kepadanya tentang agama. Takjub dengan pemimpin yang adil, yang sangat dicintai rakyatnya. Takjub dengan orang tua yang berhasil membimbing anak-anaknya. Dan berbagai ketakjuban lainnya.

Sebagaimana Allah pernah mengabulkan angan-angan saya naik pesawat, saya berharap Allah juga akan menjadikan ketakjuban-ketakjuban saya saat ini kelak suatu saat benar-benar terwujud. Harapan sekaligus doa.

Semoga..

Medan, 9 Juli 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Juli 2015 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: