.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Demam

traditional body painting

traditional body painting

Orang Jawa, memiliki kearifan lokal bernama kerokan dalam mengobati demam alias masuk angin. Caranya, ambil uang koin lalu gosokkan pada punggung searah dengan tulang rusuk. Agar tidak terlalu terasa sakit, bisa kau olesi dulu kulit punggungmu dengan minyak kayu putih atau remason. 

Gosok perlahan dengan tekanan tertentu dan penuh perasaan sampai kulit berwarna merah, tak perlu menunggu muncul tulisan “anda belum beruntung, coba lagi”. Lalu ulangi lagi, hingga hasilnya mirip gambar tulang ikan.

Sejak kecil, saya tidak pernah melakukannya. Baru dua tahun yang lalu ketika prajabatan, Sigit, kawan saya minta dikeroki, lalu saya melakukannya dengan motif kerokan sesuka saya. Saya mengeroki Sigit serasa sedang body painting, membentuk beberapa segitiga. Hasilnya? Demamnya makin parah. Besoknya saya antar berobat ke dokter. Haha

kerokan body painting

art of kerokan (baca : ngawur)

Lalu belakangan saya sering kerokan dan ketagihan tiap kali demam. Awalnya gara-gara dipaksa istri saya yang biasa melakukannya. Garapannya rapi, artistik dan memiliki estetika yang tinggi. Jauh dibanding hasil kerokan saya pada punggung Sigit. Mungkin karena itu, besoknya demam saya jadi mereda.

Kata kawan yang juga seorang dokter, secara medis, kerokan ini belum ketemu teorinya. Malah katanya, punggung yang berwarna merah itu menandakan adanya pembuluh darah yang pecah sekaligus merusak lapisan kulit juga. Baru beberapa minggu yang lalu, ada dosen UNS yang mengumumkan hasil risetnya di FB tentang kerokan. Ternyata kerokan bisa memicu hormon endorfin yang membuat tenang dan meningkatkan pertahanan tubuh. Kira-kira seperti itu lah.

Entah yang mana yang betul, yang pasti sudah terbukti secara empirik, banyak yang sembuh dengan metode ini. Oiya, kerokan ini berlakunya untuk demam yang sering kita sebut masuk angin lho ya. Jelas tidak berlaku untuk demam berdarah atau demam panggung. Apalagi demam batu akik. Wkwkw

Tiap kali saya demam, istri saya sibuk. Tidak hanya ngerokin, tapi juga bikin teh panas, lalu mijit-mijit, dan ngajakin berobat. Yang terakhir ini yang saya kurang suka. Makanya, berkali-kali saya diajak berobat sampai-sampai masuk dalam daftar kesibukannya. Habisnya, kalau saya ke dokter, trus cepet sembuh, saya tak lagi dipijit-pijit. Padahal merawat suami yang sedang sakit kan merupakan ladang pahala yang besar bagi seorang istri?

Maksud saya, kalau sekedar masuk angin, mending dikerjain sendiri. Itu kan penyakit orang kampung. Sementara, saya ini orang kampung. Sebagai orang kampung mustinya sudah akrab dong dengan masuk angin. Jadi, tak perlu lah melibatkan dokter. Cukup dokter cinta saja.

Demam memang membuat badan tidak nyaman, kalau demam mengenakkan, mungkin bakal saya masukkan dalam daftar hobi. Namun diam-diam ketika demam, saya senang sekali melihat istri yang cemas. Kecemasannya membuat keanggunannya meningkat beberapa kali lipat. Dan mungkin itu yang membuat saya meski demam tapi tidak merasa tersiksa.

*gombal level amatir*

Medan, 1 September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 September 2015 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: