.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Tahu Diri

Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu Allah kasih saya kesempatan ke Jogja, untuk sebuah urusan.

Mendarat di Bandara Adi Sucipto, saya dijemput oleh mas Adit. Sebelum diantar ke Kaliurang, saya diajak mampir istirahat sebentar ke Godean dulu. Di rumahnya ini sedang ada tukang yg memperbaiki kamar mandi yg rusak dan beberapa bagian dr rumah yang perlu diperbaiki. Setelah meletakan tas, kami menuju soto Pak Slamet. Saya lapar.

Mas Adit ini sebenarnya tinggalnya di Medan, kawan dekat saya di sana. Oi, bukan sekedar kawan, tapi sudah semacam sodara. Kebetulan pas saya di Jogja, dia juga pas sedang ada urusan di Jogja.

Maka, perbincangan di Soto Pak Slamet temanya adalah  membahas perbedaan antara Jogja dan Medan. Mulai dari sotonya, orang-orangnya, kulturnya, tertib berlalu-lintasnya dan yang lainnya.

Kenyang, kami pulang. Ada tukang parkir di soto Pak Slamet. Kami membayar parkir sepeda motor seribu rupiah saja. Tarifnya memang segitu, kalau di Medan dua ribu.

Dengan seribu rupiah, Pak tukang parkir membantu mengeluarkan motor tak lupa berterimakasih. Beda dengan di Medan, jangankan terimakasih, kadang menerima uang pun tidak sambil menoleh ke kita, setelah menerima uang langsung kabur.

“Malah kemarin ga cuma terimakasih, tapi juga dibilang hati-hati ya, Mas” kata mas Adit menirukan tukang parkir di Jogja.

Sesampai di rumah, kami mendapati 2 pak tukang yang waktu kami berangkat ke warung soto sedang memperbaiki kamar mandi, mereka di halaman rumah, sedang mencabut rumput!

“Pekerjaannya udah selesai, Mas. Apalagi yang bisa dikerjakan?” kata pak tukang

Sambil menunggu kami pulang, menunggu instruksi, mereka inisiatif untuk mencabut rumput. Padahal mereka dibayar untuk memperbaiki rumah, bukan untuk mencabut rumput. Pekerjaannya yang sudah selesai tidak membuat mereka lalu nganggur istirahat, karena memang belum jam nya istirahat.

pak tukang

pak tukang baru istirahat ketika masuk waktu dzuhur

Poin yang saya dapat dari kejadian tersebut adalah tentang tahu diri. Tukang Parkir dibayar parkir tahu diri dengan membantu mengeluarkan motor dan berterimakasih. Tidak menerima uang lalu diam saja. Begitu juga pak tukang yang sudah selesai memperbaiki kamar mandi tahu diri dengan berinisiatif mencabut rumput, tidak istirahat sebelum waktunya tiba.

Saya jadi teringat minggu sebelumnya ketika solat Jumat di masjid kantor, ketika khotbah baru dimulai, sang khotib dengan nada kesal, mengingatkan jamaah di teras masjid yang masih saja ngobrol sambil merokok.

“Ketika khatib sudah membaca hamdalah, lalu diikuti dengan sholawat, kemudian ajakan bertaqwa, artinya khutbah sudah dimulai. Jangan merusak kesempurnaan ibadah Jumat ini dengan ngobrol satu sama lain. Matikan rokoknya, segeralah masuk ke masjid, lalu dengarkan khotib”

Beberapa jamaah yang penasaran, termasuk saya, menoleh ke belakang melihat ke teras. Memang terlihat beberapa orang yang masih asyik ngobrol sambil asyik menikmati rokok, klepas klepus. Hei, ini masjid ! bukan warung kopi? Mbok pada tahu diri.

Kemudian saya teringat betapa sering melihat orang yang ke toilet umum, tapi tidak mengisi kotak infak hanya karena tidak ada orang yang menjaga. Padahal dia sudah lega membuang hajatnya dan bakal kebingungan jika tidak juga menemukan toilet umum. Astaga, saya tidak jarang menjadi orang yang tidak tahu diri tersebut.

Betapa banyak sekarang manusia yang tidak tahu diri. Dan betapa sedikit yang tahu diri. Entah kita berada di golongan yang banyak atau yang sedikit. Lebih sering atau lebih jarang menjadi orang yang tahu diri. Hanya kita yang tau dan yang bisa memilihnya.

Jika di hadapan manusia kita seharusnya jadi orang yang tahu diri, maka di hadapan Allah mustinya kita jauh lebih tahu diri. Sudah Dia kasih rezeki harta, mbok tahu diri dengan berzakat dan ringan berinfak. Sudah Dia kasih kesehatan, mbok tahu diri dengan menjauhi maksiat. Sudah Dia kasih berjuta nikmat, mbok jangan malas beribadah.

Sambil membonceng motor mas Adit, saya merenungi banyak hal. Hingga ketika di lampu merah kami berhenti. Lalu tersadar kalau motor kami melewati batas garis putih, sementara yang lain berada di belakang garis. Oi, ini Jogja, bukan Medan. Demi menyadari hal itu, kami mundur di belakang garis, mencoba tahu diri.

Kutoarjo, 10 September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 September 2015 by in hikmah, travelling.
%d blogger menyukai ini: