.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Surga Yang Tak Dirindukan

Perindu Surga

Keluarga Perindu Surga

Kita menikah artinya kita berumah tangga. Salah satu tujuan menikah adalah ketentraman hati, ketenangan jiwa. Sehingga dikatakan, rumahku surgaku. Rumah di sini tidak melulu diartikan sebagai rumah dalam makna bangunan, tapi lebih pada rumah tangga itu sendiri, ketenangan dan ketentraman di dalamnya.

Kemanapun pergi, ketika pulang ke rumah, maka yang terasa adalah nuansa surga.

Adem ayem…

Bahagia sejahtera …

Nyaman tentram …

Aman sentausa…

Harapannya begitu, idealnya begitu, penginnya begitu.

Namun apa daya. Surga di dunia itu, bukan surga di akhirat yang nyata. Surga di dunia tidak sempurna. Tidak selamanya suka, kadang ada duka. Tidak selamanya kebahagiaan, tidak jarang ada kesedihan, ada kekesalan. Tidak selamanya tertawa gembira, sering pula ada tangis, marah, sedih, dan kawan-kawannya.

Kita tentunya merindukan surga yang selalu indah. Namun terkadang muncul surga yang tak dirindukan. Surga yang tidak indah, yang bikin resah, gelisah, lelah, atau kadang marah. Rasanya begitu payah hingga akhirnya hanya bisa pasrah. #ahsudahlah

Menyadari kemunculan Surga yang tak dirindukan, membuat kita lebih waspada untuk bersiap menghadapinya. Sebagaimana orang yang tinggal di bantaran sungai, mereka sadar ada resiko kebanjiran. Sebagaimana orang yang tinggal di lereng gunung berapi, mereka sadar ada resiko bencana gunung meletus. Kesadaran membuat kita lebih siap.

Maka, ketika negara api menyerang kondisi tersebut datang, saya dan istri saya sudah siap menghadapinya. Dan semakin hari semakin memperbaiki bekal dan menyempurnakan amunisi untuk menghadapinya. Semakin dewasa menyikapinya.

Ketika kami sedang bertengkar misalnya, kami bersepakat untuk sebisa mungkin orang lain tidak tahu. Tetangga, kawan dekat, sahabat, saudara, bahkan orang tua sekalipun. Urusan bilateral, cukup dua negara saja.

Semisal kami sedang perang dingin lalu ada kawan yang bertamu ke rumah, tanpa dikomando, kami tiba-tiba jago berakting damai. Saking piawainya memainkan akting, kadang kami lupa masih saja berdamai padahal tamunya sudah pulang. Lho, kita kan sedang perang dingin? Yaudah deh, kita lanjutkan perdamaiannya. Si tamu tanpa sadar menjadi juru damai kami. Haha

Secara tidak tertulis juga, kami bersepakat untuk tidak berlama-lama menikmati masa konflik. Rasa marah, sebal, bebal, sedih, egois, memang melekat dalam diri manusia. Biarlah terekspresikan. Meskipun, sebisa mungkin tetap terkendali.

Nah, terpaksanya saya tidak kuat untuk mengekspresikan emosi, bukan gelas atau piring yang saya banting. Saya ganti dengan bantal. Jika levelnya lebih tinggi, saya banting hape! (bantingnya di kasur, dan pelaaaan)

Ibarat masakan enak, bumbunya tidak hanya gula yang manis. Tapi ada cabe yang pedas, garam yang asin, juga terasi yang asam. Maka, jika surga yang tak dirindukan itu datang, kami bersepakat untuk tidak berlama-lama. Jangan terlalu pedas, terlalu asin, terlalu asam.

Dengan adanya masa konflik, kami jadi bisa lebih merasakan nikmatnya masa damai. Dengan adanya surga yang tak dirindukan, kami jadi bisa mengevaluasi : Sudahkah rumah tangga kita menjadi surga yang kita rindu.

Paling indah adalah masa transisi dari masa konflik menuju masa damai, transisi menuju surga yang dirindu. Disitu kami menikmati suasana saling memaafkan dan mengakui kesalahan. Tingkat keromantisan meningkat 7x lipat. Tingkat kemesraan meningkat 9x lipat.

Kondisi surga yang tak dirindukan itu masih jauh lebih baik daripada kondisi neraka yang dirindukan. Udah kondisinya neraka, dirindukan pulak. Nangudubillah. Maka, kita musti sadar dengan penuh kesadaran, bahwa : Dirindukan atau tidak, Surga tetaplah Surga.

Medan, 21 September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 September 2015 by in kisahkami, opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: