.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pak Haji dan Dokter

Ayah...Kisah Buya Hamka

Ayah…Kisah Buya Hamka

Kisah ini saya temukan dalam Buku “Ayah”, buku tentang Buya Hamka yang ditulis oleh Irfan Hamka, putra beliau. Bisa kau simak di bab pertama buku tersebut.

Dalam sebuah kultum seusai shalat subuh, ada seorang jamaah yang bertanya dan meminta pandangan kepada Buya Hamka.

“Buya, saya  punya tetangga dua orang. Yang satu seorang haji, taatnya bukan main. Setiap waktu shalat, Pak Haji selalu ke masjid dekat rumah kami. Puasa tidak pernah lalai. Begitu juga bayar zakat. Tapi sayang, Pak Haji ini tidak pernah akur dengan tetangga. Ternak tetangga yang masuk ke pekarangannya selalu dilempar dengan batu.

Tetangga kami satu lagi seorang dokter. Bukan main baiknya. Bila ada yang sakit tengah malam pun dokter ini tidak menampik jika ada pasien yang datang ke rumahnya. Hanya sayang Buya, dokter ini tidak pernah ke masjid dan shalat. Bagaimana Buya? “ Tanya si jamaah.

**

Saya rasa, pertanyaan ini masih sangat relevan dan kekinian. Kita sering melihat “pak haji” dan juga “dokter” di sekitar kita. Pihak yang ibadahnya kencang, tapi belum baik dalam berakhlak dengan sesama manusia. Juga pihak yang sangat baik dalam menebar manfaat kepada orang-orang di sekitarnya, tapi dalam hal ibadah masih sangat kurang bahkan lalai.

Lalu muncul dikotomi-dikotomi itu. Ada pro “pak haji”, mereka bilang yang penting hubungan dengan Tuhan, urusan dengan manusia tidak perlu diperhatikan. Ada yang pro”dokter”, mereka bilang yang penting hubungan dengan manusia, maka Tuhan akan maklum. Mereka lupa bahwa habluminallah dan habluminannas itu satu paket. Bahwa hubungan vertikal dan horisontal sama-sama harus diperhatikan. Bahwa diciptakan manusia itu untuk beribadah (liya’budun) dan juga menjadi wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fil ard).

**

Maka, mari kita simak jawaban Buya Hamka

“Kita sepakati dulu bahwa shalat merupakkan tiang agama. Sedang kebaikan yang lain sebagai pengikutnya. Kalimat ‘ Pak haji taat shalat’, kata ‘tapi’ nya  kita hilangkan dulu. Kalimatnya menjadi ‘Pak Haji taat beribadah,’sambungannya,’kebaikan yang lain belum diikuti oleh Pak Haji’. Lalu untuk ikutnya kebaikan yang lain, ini peranan da’wah bilhal, yaitu dakwah dengan cara memberi contoh teladan, perbuatan, atau sikap. Memberi contoh yang baik ke Pak Haji. Prosesnya bisa lama bisa pula sebentar. Mengubah perangai seseorang mudah-mudah sulit . Namun kebiasaan rajinnya Pak Haji beribadah jangan diejek”

Ayah (Buya Hamka) menerangkan dengan penekanan ata yang sangat rinci dengan suara seraknya yang sangat khas.

“Begitu pula halnya dengan si dokter. Kebalikan dari perilaku Pak Haji, si dokter jangan diejek karena dia tidak shalat. Kata-kata ‘tidak shalat’, juga diganti  dengan kata-kata ’belum shalat’. Hal ini pun harus diselesaikan dengan da’wah bilhal, dengan cara yang lemah lembut. Yang penting si dokter tetap beragama Islam. Hanya belum shalat. Saudara pun berkewajiban da’wah bilhal kepada kedua tetangga itu.”

Nyes.. Adem..

**

Seakan-akan saya ikut dalam kultum selepas subuh tersebut, mendengar langsung suara beliau. Merasakan setiap kalimat-kalimat bijaksana beliau.

Bab pertama buku tersebut membuat saya lebih antusias untuk membuka lembar-lembar berikutnya. Menyelami kisah Buya Hamka, seorang ulama, pejuang, sastrawan, sekaligus politisi. Sangat sulit kita temui sosok seperti beliau di zaman sekarang.

Medan, 11 Oktober 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Oktober 2015 by in hikmah, Resensi.
%d blogger menyukai ini: