.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Menceritakan Kebaikan Pasangan

Ketika saya ada tugas dinas ke luar kota, seringkali istri saya mengajak temannya untuk menemani menginap di rumah. Dari cerita istri saya, beberapa di antara mereka bertanya mengenai tidak digunakannya dispenser dirumah. Di rumah kami, memang ada dispenser tetapi tidak kami gunakan.

“Mbak, kenapa ga pakai dispenser? Apa ga repot mengisi botol-botol tempat air dari galon? Kan berat?” Tanya kawan istri saya (kawan saya juga sih)

“Bagian dalam dispenser itu kotor, ga terjamin kebersihannya”

Kami mendapatkan dispenser tersebut dari kawan yang pindah tugas ke Jakarta. Bukan barang baru memang, tapi masih bagus. Mungkin karena lama tidak dipakai, bagian dalamnya menjadi kotor.

“Lagian”, lanjut istri saya, “yang mengisi botol-botol tempat air itu mas Ridwan. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, dia pastikan semua botol sudah terisi penuh. Begitu juga sebelum berangkat ke luar kota”

“Oya, mbak?”

 “Bahkan mas Ridwan tahu lho, kalau semisal aku seharian minum air putihnya sedikit, trus ditanyain kenapa minumnya sedikit”

“So sweet”

**

Begitulah. Istri saya sering menceritakan kebaikan saya di depan kawan-kawannya. Juga di tulisan-tulisannya di Sosmed (FB / instagramnya).

Bukan kebaikan sih, tapi hal-hal yang baik yang diceritakannya. Padahal kalau dia mau, bisa saja yang diceritakan adalah kejelekan saya. Perkiraan saya, istri saya adalah orang kedua yang paling tahu tentang jeleknya saya, tentang aib saya. Yang pertama siapa? Jelas saya sendiri dong.

Tidak jarang juga ketika berdiskusi dengan siapa saja, seringkali mencantumkan nama saya sebagai rujukan. Sebagai dasar atas suatu penyikapan.

“Kalau menurut mas Ridwan, begini…”

“Berkali-kali aku diingatkan mas Ridwan agar begini…”

“Sejak menikah mas Ridwan, aku gak pernah lagi begini…”

Saya kan jadi malu.

Nasehat-nasehat saya masuk dalam alam bawah sadarnya, perlahan membentuk karakter dirinya. Saya mensyukurinya. Semoga menjadi pertanda keberhasilan saya mendidik istri. Meski saya sadari, saya masih jauh dari kriteria suami yang baik.

Dan tak bisa dipungkiri, saya pun banyak berubah sejak memiliki pasangan. Kami sering berdiskusi, kami sering saling menasehati. Tak perlu diperjelas lah, antara suami dan istri lebih banyak mana yang berbicara dan mana yang mendengarkan. Semua juga tahu. :v

Kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri. Kapaaaan lah saya menceritakan kebaikan istri saya. Kok rasa-rasanya ga pernah ya. Atau jangan-jangan pernah, tapi lupa.

Aha!

Kalau begitu, anggap saja tulisan ini mewakilinya. Tulisan yang menceritan kebaikan pasangannya yang sering menceritakan kebaikan pasangannya.

@.@

2 comments on “Menceritakan Kebaikan Pasangan

  1. izzatyzone
    10 Maret 2016

    :3

  2. Nick
    5 Juni 2016

    Sangat menginspirasi, like this

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Maret 2016 by in hikmah, kisahkami.
%d blogger menyukai ini: