.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Botol

botol

“Botol kecil ini, jika berisi air mineral, berapa harganya?” Tanya ustadz

“Tiga ribu, Ustadz”

Ustadz bertanya seperti itu bukan berarti tidak tahu berapa harganya. Pertanyaan ini sepertinya akan berlanjut dengan sebuah penjelasan. Seperti biasanya.

“Kalau semisal botol ini berisi juz?”

“Delapan ribu, Ustadz”

“Kalau isinya madu?”

“Ya sekitar 25 ribu lah, Ustadz”

“Nah, kalau botol ini penuh berisi minyak wangi, berapa kira-kira harganya?”

“Ratusan ribu, Ustadz”

Kami yang duduk melingkar bersama ustadz, menyimak dengan baik, bergantian menjawab pertanyaan beliau. Aku menebak-nebak dalam hati. Pasti ustadz bakal menjelaskan tentang botol dan isi, ini semacam analogi. Kami bakal dinasehati agar mengutamakan isi, bukan botol. Bahwa yang menentukan nilai dari botol, adalah isinya.

“Diri kita ini ibarat botol, yang membuat menjadi bernilai adalah isi. Semakin bernilai bernilai isi, semakin tinggi pula harga botol”

Tuh, kan. Persis seperti yang aku duga. Kubilang juga apa. Rasa-rasanya aku udah sering membaca atau mendengar materi tentang ini. Perlahan mulailah muncul benih kesombongan dalam hatiku. Jika kriteria kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain, maka yang muncul ini adalah kriteria kedua.

“Kalau botol diisi air got?”

“Ga ada harganya, Ustadz”

“Betul sekali. Tidak ada harganya, bahkan dibuang. Tak ada yang menginginkan”

Ustadz memberikan jeda sejenak, membiarkan kami menunggu apa yang akan dikatakan.

 “Begitu juga jika botol berisi madu tetapi tercampur air got, jadi tidak ada harganya, tidak ada nilainya. Kalian mau botol berisi madu atau minyak wangi, tetapi tercampur air got di dalamnya?”

“Ga mau lah, Ustadz”

Perasaanku mulai tidak enak.

“Jika kita ibarat botol, maka sebaik-baik isi adalah keimanan dan ketakwaan. Itulah sebabnya orang yang beriman sangat takut untuk berbuat dosa, sekecil apapun. Dia tidak mau sedikitpun air got mengisi ruang dalam botol”

Jleb. Aku menunduk, menghayati kalimat tersebut, sambil memejamkan mata. Lalu berusaha memeriksa isi hati.

Astaga! Air got ada dimana-mana.

 

 

Medan, 10 Maret 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Maret 2016 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: