.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Cita-cita

Jpeg

Di hari terakhir pelatihan yang sudah berjalan 3 hari ini, peserta diminta untuk menyampaikan cita-cita, sesuatu yang ingin dicapai selama hidup di dunia. Ya, aku menjadi salah satu dari peserta pelatihan tersebut.

“Setiap kali pulang kampung, saya akan menanam satu pohon”

“Saya ingin menulis buku yang bisa menginspirasi dan bermanfaat untuk banyak orang”

“Saya ingin dikenal sabagai trainer yang pada usia 40 tahun, saya sudah menginspirasi 10.000 orang untuk berubah menjadi lebih baik”

“Saya ingin melanjutkan cita-cita almarhum ayah saya, membangun pesantren yang meningkatkan kualitas SDM dan juga ekonomi masyarakat”

Setiap peserta menyampaikan cita-cita nya dengan penuh semangat. Ada juga yang mengucapkan dengan rasa haru, berlinang airmata, saking begitu menghayatinya. Sementara yang lain mendengarkan dan mengaminkan seusai kalimat diucapkan.

Akupun terpaksa ikut mengucapkan cita-citaku. Meski sebenarnya ada ragu di dalam hati. Ragu apakah benar ini cita-citaku atau hanya ikut-ikutan. Memang terasa bedanya, antara mengucapkan dengan tulus dengan pura-pura. Tapi biarlah, semoga dengan diaminkan banyak orang bisa terkabulkan.

Tibalah giliran seorang peserta laki-laki menyampaikan cita-citanya. Semua mata tertuju padanya. Penasaran. Aku mengenalnya, hampir semua peserta mengenal namanya. Selama pelatihan dia cukup vokal, meski tidak mendominasi. Humble, ramah, juga humoris.

“Saya ketika meninggal kelak, tidak ingin dikenal sebagai siapa-siapa.” Dia tertunduk, suaranya terdengar jelas.

Kemudian hening, semua menyimak. “Saya hanya ingin selama saya hidup, dimanapun saya berada, orang-orang di sekitar saya merasakan manfaat atas keberadaan saya. Keluarga saya, tetangga saya, rekan kerja saya, kawan-kawan di organisasi saya, mereka mendapatkan manfaat atas keberadaan saya. Itu saja”

Aku tertunduk, memikirkan kata-katanya yang terasa ketulusannya.

Medan, Maret 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Mei 2016 by in Cerita Fiksi.
%d blogger menyukai ini: