.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ramadhan #4 : Menikmati

Dalam empat hari terkahir ini, baru tadi malam saya bisa menikmati shalat tarawih.

Sebelumnya, tidak terlalu begitu menikmati. Sebagian besar karena terkena serangan kantuk yg sangat hebat, bahkan sebelum shalat tarawih dimulai. Pada saat tausyiah antara sholat isya dan tarawih kesadaran saya mulai tidak stabil. Ketika ditanya apa isi ceramah tadi, saya bukan menjawab lupa, tapi tidak tahu.

Saya memang shalat di masjid yang berbeda dalam empat malam terakhir. Seperti halnya ramadhan di Medan tahun lalu, tiap malam ganti masjid. Semacam program tarling (tarawih keliling) lah, tapi ini pribadi saja.

Ada 11 rakaat , ada yang 23 rakaat. Ada yang panjang ada yang pendek. Ada yang AC ada yang kipas angin.

menikmati

Masjid Al Jihad

Malam ke empat ini, saya shalat isya & tarawih di masjid Al Jihad, jalan Abdullah Lubis, Medan Baru. Masjid yang saya dan istri saya sejak menginjakkan kaki di Medan hingga saat ini, sepakat bahwa masjid ini adalah masjid paling humanis, ramah, dan nyaman. Di kesempatan lain mungkin akan saya bahas lebih banyak tentang masjid ini.

Nah, apa yang membuat saya bisa menikmati shalat tarawih di sini? Tentu ada faktor kondisi fisik saya, tapi bisa kita abaikan, karena malam-malam sebelumnya bisa dibilang sama. Sama-sama kerja di siang harinya.

Pertama adalah faktor masjid. Seperti saya bilang tadi, masjid ini sangat nyaman. Lapang, bersih, ber AC & kipas angin. Parkir luas, tempat wudhu & kamar mandi memadai.

Kedua, penceramah. Kebetulan tadi malam, pengisi ceramah antara shalat isya dan tarawih adalah Buya KH Amiruddin MS, Ketua Umum Majelis Zikir Tazkira Sumut. Beliau cukup popular di Medan. Isi dan penyampaiannya sangat bagus.

Ketiga, imam shalat. Yang menjadi imam shalat tarawih masih muda, tiga kali juara MTQ nasional. Suaranya enak didengar, tajwid bacaannya baik. Membaca surat al Baqarah. Tiap rakaat membaca antara 1 sampai 3 ayat.

Tidak terlalu pendek, tidak terlalu panjang. Dua rakaat salam. Agar measurable, saya sempat menghitung, untuk tiap 2 rakaat, dari takbiratul ikhram sampai salam, rata-rata membutuhkan waktu 3 menit 46 detik.

Yeah, itulah kira-kira faktor yang membuat saya tadi malam bisa menikmati shalat tarawih.

Namun sebenarnya, hal ini menunjukkan kelemahan saya. Bahwa saya ternyata bergantung dengan faktor-faktor makhluk untuk menikmati perjumpaan dengan sang Khaliq.

Hiks.., disini saya merasa prihatin sama diri sendiri. 😰

Jika fesbukan, wosapan, meski dalam kondisi lapar, panas, macet, ngantuk, nahan kebelet, itu saja bisa menikmati, kenapa dalam urusan ibadah rasa-rasanya berat?

“Yang membuat kita lelah bukan perkara lama waktunya, tapi perkara menikmatinya atau tidak…”

[Ust. Syatori Abdul Rauf]

**

04 Ramadhan 1437
07.03
di rumah, bada tilawah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Juni 2016 by in hikmah, sepotong episode, serial ramadhan.
%d blogger menyukai ini: