.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Berhitung

berhitungSejak kecil saya suka pelajaran berhitung. Bermain logika, bergulat dengan angka-angka, sangat mengasyikan.

Waktu SD bahkan saya sempat bosan dengan pelajaran yang hanya itu itu saja. “Pipolondo”, ping poro lan sudo. Artinya : perkalian pembagian penjumlahan pengurangan. Saya mengira perhitungan hanya sebatas itu.

Hingga akhirnya ketika masuk SMP ternyata jadi semakin tahu bahwa pelajaran berhitung semakin banyak jenisnya. Saya mulai berkenalan dengan pelajaran berhitung yang dibumbui dengan imajinasi tetap dalam kerangka logika : Fisika. Kebosanan hilang, kembali tertantang, kembali senang.

Lanjut SMA, kesenangan mulai agak sedikit berkurang karena tingkat kesulitan meningkat, tidak sebanding dengan semangat belajar. Sebelum-sebelumnya cukup membaca teori sekali sudah paham, kini berlatih soal berkali-kali masih belum lihai. Deferensial, integral, cacing-cacing berkeliaran, trigonometri, bertingkat-tingkat pulak. Membuat cenat cenut kayak marmut.

Lanjut kuliah, sks untuk pelajaran berhitung terhitung banyak. Lebih kompleks. Ah, ah, saya ga tega untuk bercerita.

**

Dalam bermain angka sering ada pola. Strukturnya terdiri dari banyak variabel.

Berhitung ternyata tidak sesederhana ketika saya SD. Ada berbagai pola. Strukturnya terdiri dari banyak variabel, konstanta, bilangan ini, rumus itu. Rumuspun bisa diturunkan menjadi beranak pinak.

Berhitung menjadi dasar dalam ilmu eksak. Logika-logika yang disepakati dalam teori bisa berkembang. Ajaibnya teori-teori itu saling menguatkan. Padahal setahu saya, Phytagoras, Pascal, Al Khawarizmi, Newton, Bernauli, Laplace, hingga Einstein, mereka tidak saling kenal dan orang-orang jenius itu belum pernah kerja kelompok.

Logika sebagai produk dari akal manusia ini membuat saya takjub. Lebih takjub lagi dengan pencipta akal, pencipta manusia.

Newton mungkin tak menyangka kalau teorinya yang sederhana itu bisa berkembang sekompleks yang ditemukan Einstein. Membuat saya curiga, jangan-jangan 100 tahun lagi saya tidak lagi bisa menjangkau teori-teori baru, membuat pusing 37 keliling. Untungnya 100 tahun lagi sangat kecil kemungkinan saya masih hidup.

**

Teori-teori yang njlimet itu tidak harus kita ketahui, apalagi pahami. Tetapi kemampuan berhitung, wajib kita kuasai. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat membutuhkannya.

Berdagang misalnya, jika ingin untung harus pandai berhitung. Modal sekian, untung sekian, strategi menggunakan rumus pemasaran demikan.

Lebih simpel lagi, misal janjian mau ketemu kawan jam sekian, harus dihitung lama perjalanan, kemungkinan macet, sehingga disimpulkan harus berangkat dari rumah jam sekian.

Dalam beragama juga sering kita temukan perumpamaan-perumpamaan yang menggunakan hitungan. Shalat berjamaah 27x lebih banyak dibanding sendirian. Sedekah yg seperti ini bagai sebesar gunung emas. Lama hari di akhirat bagai sekian tahun di bumi. Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan.

Untuk memahami agama, kita pun harus mampu berhitung, sebagai instrumen penguat keimanan.

**

Puncak dari segala perhitungan adalah ketika hari itu tiba : Hari Perhitungan. Hari dimana semua manusia dihitung amal-amal didunia untuk diambil konklusi masuk surga atau neraka.

Maka, sebelum hari itu tiba, coba kau hitung amal-amalmu. Masukkan variabel ibadah, maksiat, keikhlasan, kebermanfaatan, kedzaliman, dan variabel lainnya yang selama ini telah dilakukan.

Pantas masuk surga belum?

**

07 Ramadhan 1437
23.30
di Ule Kareng

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Juni 2016 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: