.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Menyampaikan

 

3d human with a red question mark

Saya punya kawan senior di Kantor. Usianya sepantaran dengan bapak saya. Beberapa tahun lagi pensiun. Peringkatnya sudah tinggi, disegani banyak orang. Dan saya termasuk orang yang menghormatinya

Beliau jago dalam bicara. Suaranya keras, intonasinya bagus, ekspresinya dapet. Juga pandai berseloroh. Orang bakal tertarik mendengar cerita yang disampaikan. Cerita yang sama akan berbeda rasanya jika yang menyampaikan saya. Mungkin bakal garing, tidak sehidup jika beliau yang menyampaikan.

Dalam hal berkomunikasi, beliau paham betul cara menyampaikan pesan. Intrinsik maupun ekstrinsik. Tersirat maupun tersurat. Secara tersurat, beliau bercerita tentang atasannya dulu menasehatinya. Secara tersirat, beliau sedang menasehati kami.

Selain itu juga, beliau pandai bergaul. Luwes. Ketika bersama dengan kelas pejabat, pantas. Tetapi beliau juga sering nongkrong di kedai kopi, bukan kafe lho ya. Dengan dikawani kopi & rokok, duduk di kedai kopi baginya jauh lebih betah ketimbang di masjid.

**

Suatu ketika diceritaknnya tentang pengalaman dulu waktu ditempatkan di suatu daerah. Beliau mendapatkan anggota yang suka mabuk dan agak kurang sopan dengan atasan. Dengan pendekatan yang bagus, si anggota ini bisa terbuka bercerita tentang masalahnya. Akhirnya kembali bekerja dengan semangat, juga hormat padanya.

Kawan saya ini bercerita dengan semangat. Namun yang membuat saya terkejut adalah di bagian cerita ketika dia ikut minum alkohol/miras. Sayangnya, dia juga bangga pada bagian ini, padahal beliau seorang muslim.

“Bagi saya, minum alkohol itu obat. Dan saya tidak mabuk kok. Jadi, ya ga masalah. Kan kembali ke Alquran, jangan minum minuman yang memabukkan. Tidak disebut alkohol. Ya tergantung orangnya, kalau saya ga mabuk.”

Saya gemes pengin memberikan counter attack. Tapi apa daya, saya belum memiliki argumen yang kuat. Ilmu saya belum cukup untuk mendebatnya. Namun hati saya berontak, saya harus menyampaikan sesuatu.

Terlebih ada kawan lain yang mendengar, kawan-kawan yang lebih junior dari saya. Gawatnya mereka mendengarkannya juga dengan antusias. Saya khawatir, mereka juga akan mengiyakan lalu ikut-ikut minum miras dengan dalih yang sama.

Sementara itu, sejak beliau bangga menceritakan tentang “halal” nya minuman beralkohol, antusiasme saya jadi hilang. Berganti dengan kegelisahan. Dan sepertinya itu terasa oleh beliau.

“Kalau Pak Ridwan pasti bilang kalau alkohol itu haram. Kalau saya tidak. Saya bertanya pada hati saya, dan jawabannya adalah boleh, karena tidak memabukkan. Bagi saya”

Mendengar nama saya disebut, saya tersenyum. Dalam hati, ini ibarat saya dikasih ruang tembak, ibarat saya dikasih celah untuk memberi pukulan. Saya segera berpikir cepat.

“Begini, Pak. Kalau saya nih ya, Pak. Saya merasa ilmu saya masih terlalu dangkal, belum memiliki kapasitas untuk memberikan fatwa. Jadi saya ngikut ulama’ saja. Mereka adalah pewaris para nabi. Dan setahu saya semua berpendapat bahwa minuman beralkohol atau miras itu haram.”

**

Plong.

Akhirnya saya bisa menyampaikan apa yang harus saya sampaikan. Masalah setuju atau tidak, itu urusan beliau. Setidaknya kawan-kawan yang lain juga mendengarkan argumen saya.

Saya yakin beliau mampu menangkap pesan yang saya sampaikan, baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Semoga kamu juga. Paham maksud tulisan ini.

**

06 Ramadhan 1437
11.03
di rumah, bada dhuha.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Juni 2016 by in sepotong episode, serial ramadhan.
%d blogger menyukai ini: