.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Terima Kasih

terima-kasih

Dalam “Idealisme Kami” yang berkali-kali kami ucapkan di asrama pembinaan zaman kuliah dulu, ada penggalan sebagai berikut :

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih.

Yang kami harap adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah – Pencipta Alam semesta

**

Kami sudah ditanamkan agar tidak berharap kepada harta, imbalan, popularitas & juga terima kasih. Terbentuknya Indonesia yang lebih baik & bermartabat adalah misi, ridho Allah adalah visi.

Idealnya seperti itu.

Namun kemudian saya merasa masih jauh dari ideal. Untuk point yang digandengkan dengan frase “sekedar” saja, terkadang saya masih berharap. Ya, terima kasih. Setiap manusia memiliki sifat dasar keinginan untuk diapresiasi alias dihargai. Ucapan terima kasih merupakan bentuk apresiasi paling sederhana tetapi berefek tidak sederhana.

Sebagai objek, saya masih berusaha untuk tidak berharap agar diberi ucapan terima kasih ketika membantu orang lain. Minimal, tidak tersinggung jika tidak diterimakasihi. Dengan begitu, bisa lebih menjaga ketulusan dan keikhlasan.

Sebagai subjek, mengucapkan terima kasih adalah sebuah keharusan bagi saya. Kebaikan harus diapresiasi agar tumbuh dan berkembang. Berterima kasih juga merupakan salah satu bentuk tahu diri.

Maka dalam keluarga kami, kami jadikan berterima kasih sebagai sebuah kebiasaan. Ketika istri saya menghidangkan teh manis, saya berterimakasih. Ketika saya membantu mencuci piring, istri saya berterimakasih. Sekecil apapun kebaikan yang kami terima, berterimakasih adalah keharusan.

**

Berterimakasih juga ada caranya. Tidak asal mengucapkan lalu itu selesai. Intonasinya, nadanya, gesturnya, musti menggambarkan ketulusan. 

Level yang lebih tinggi adalah berterima kasih tidak hanya dalam bentuk perkataan. Tapi berupa balasan kebaikan. Karena sekali lagi, terima kasih adalah salah satu bentuk tahu diri. Jika tetangga atau kerabat misalkan, memberi kita hadiah. Berterimakasih sudah cukup sebenarnya. Tetapi lebih sempurna jika kita balas kebaikan tersebut.

Terakhir, jangan lupa untuk berterimakasih kepada Allah yang memberi kita rizki. Berterimakasih pada Nya dengan ucapan, juga dengan perbuatan.

Sekian…
Terima kasih sudah membaca tulisan saya ini.
🙂

©ridwan kharis

**

08 Ramadhan 1437
22.53
di Ruang Tamu

Iklan

One comment on “Terima Kasih

  1. kang Rahmat
    17 Juni 2016

    Terima kasih kang tulisannya, mengingatkan kembali tujuan . . Dir ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Juni 2016 by in hikmah, opini, serial ramadhan.
%d blogger menyukai ini: