.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Aturan

aturanBelakangan ini, atau bahkan sudah sejak lama, kita sering mendengar kalimat semacam ini :

Kalo islamnya bener, semua yang haram-haram itu ga perlu pake peraturan pemerintah. Yang namanya haram ya jangan diminum, jangan dimakan, jangan dilakukan.

Muslim bisa ga makan babi walau banyak restoran yang menyediakan daging babi. Di minimarket dipajang si sebelah kiri, teh botol di sebelah kiri. Karena bir haram, maka muslim yang benar ya beli teh botol. Ada masjid yang di sampingnya ada panti pijat plus-plus. Muslim yang benar ya je masjid, bukan ke panti pijat plus plus.

Punya iman kok manja

**

Ya, kalimat-kalimat seperti itu biasanya menggunakan akhirul kalam : Punya iman kok manja.

Pada pembahasan kali ini coba kita sisihkan dulu tentang punya iman atau tidak.

Gini Gaes. Semua manusia, ga peduli ia beragama atau tidak, jomblo atau tidak, pada dasarnya memerlukan aturan. Tanpa adanya aturan, kehidupan bakal chaos, kacau. Kecuali kalo si manusia hidupnya sendirian di muka bumi, mungkin bakal beda cerita. Lha manusia kan makhluk sosial.

Aturan-aturan dibuat untuk menjaga tatanan kehidupan. Sesuai kebiasaan atau budaya yang disepakati oleh masyarakat. Aturan-aturan inilah yang membatasi kebebasan individu ketika dia menjadi bagian atau masuk ke dalam masyarakat.

Sebagau makhluk sosial, satu sama lain memiliki potensi untuk bersinggungan, biasa karena keegoisan. Dengan aturan, terjadi kesepakatan siapa yang harus didahulukan, siapa yang harus mengalah.

Makanya di perempatan jalan, tetap perlu lampu lalu lintas. Boleh saja bilang : Kalo mau bertabrakan orang-orang juga akan minggir atau berhenti sendiri. Tapi kenyataannya tidak bisa tertata dengan sendirinya. Tidak jarang malah karena pada tidak mau mengalah akhirnya terkunci di tengah perempatan. Macet deh.

Bahkan yang udah jelas-jelas kalau kereta api tidak bisa ngerem mendadak, orang-orang masih banyak yang nekat menerobos palang pintu. Itu kan membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Lalu bagaimana bisa kita menampikkan kebutuhan akan aturan?

Pertanyaan berikutnya adalah hal apa yang perlu diatur oleh negara, hal apa yang cukup diatur oleh sosial dan hal apa yang diserahkan ke individu. Ini yang menjadi diskusi menarik oleh pemikir di negara kita.

Jadi, aturan itu bukan tentang memanjakan individu orang beragama, tetapi lebih untuk menyelamatkan kehidupan sosial agar tertata lebih baik.

©ridwan kharis

**

09 Ramadhan 1437
21.58
di Kampoeng Deli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 Juni 2016 by in opini, serial ramadhan.
%d blogger menyukai ini: