.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pinjam

pinjam

Dalam empat hari terakhir, saya melakukan 3 aktivitas yang berhubungan dengan pinjam meminjam pada orang yang berbeda. Ada mengembalikan pinjaman, memberi pinjaman, dan juga meminjamkan. Kebetulan semua berhubungan dengan uang. Dengan nominal yang bervariasi, puluhan ribu, ratusan ribu, dan jutaan.

Ya, namanya juga berhubungan dengan manusia, berkawan gitu. Aktivitas membantu dan dibantu alias saling membantu menjadi sebuah kewajaran, kewajiban bahkan.

Ada kawan senior yang menyarankan agar tidak terlalu mudah untuk urusan pinjam meminjam pada kawan. Mending pinjam bank saja. Berurusan pinjam meminjam dengan kawan seringnya adalah waktu kita mau nagih malah kesannya kita yang ngemis-ngemis.

Mungkin itu pengalaman pribadi beliau. Ya tapi memang kebanyakan seperti itu, sih. Kalau itu terjadi pada saya, akan saya blacklist kawan seperti itu.

Alhamdulillah saya punya kawan-kawan dekat yang baik hati. Kami saling percaya satu sama lain, karena memang kepercayaan itulah yang menjadi jaminan atas transaksi ini. Kami juga menjaga adab pinjam meminjam.

Si peminjam ketika meminjam jelas kapan akan mengembalikan. Juga akan merawat baik-baik barang yang dipinjam. Jika pinjam buku misalkan, akan dirawat seperti milik sendiri, disampuli jika perlu. Apabila terpaksa sampai jatuh tempo tapi belum bisa mengembalikan, dia akan minta maaf terlebih dahulu sebelum ditagih, juga menyampaikan kapan bakal bisa mengembalikan.

Si pemberi pinjaman akan memberikan alasan yang jelas ketika tidak bisa memberi pinjaman. Tidak mengada-ada. Ketika sudah jatuh tempo, dia bakal mengingatkan kawannya si peminjam, mana tahu lupa. Kalaupun menagih, dengan cara yang baik, dengan kalimat yang baik.

Urusan pinjam meminjam memang beresiko merusak hubungan perkawanan atau persaudaraan, jika tidak berjalan lancar. Namun jika berjalan lancar, perkawanan bakal menjadi semakin kuat, persaudaraan semakin kental. Tidak bingung ketika butuh bantuan, juga ringan tangan ketika ada yang butuh bantuan. Itu yang saya rasakan.

Prinsipnya adalah barang yang dipinjamkan ke kita bukanlah milik kita, tetapi bisa diambil manfaatnya. Disitulah kebaikan si pemberi pinjaman. Atas kebaikannya itu, kita harus berterimakasih dan tahu diri dengan menjaga baik-baik barang pinjaman tersebut. Ketika waktunya tiba, kita mengembalikan dengan penuh ikhlas.

Oi, ingat “Innalillahi wainnailaihi rojiun ?” Bukankah itu mengingatkan kalau kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada Nya. Itu berarti raga kita, harta kita, kesehatan kita, kebahagiaan kita, itu adalah barang pinjaman. Rawat baik-baik tuh barang pinjaman

©ridwan kharis

**

11 Ramadhan 1437
22.02
di Ruang Tamu, abis tarawih

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 Juni 2016 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: