.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Bahagia Melihat Orang Lain Bersedih


Setelah hujan semalaman, mentari mulai muncul. Pagi menyapa, meski bekas-bekas hujan masih terasa. Sepertinya itulah perumpamaan kondisi kami saat ini. Masa bersedih karena dengan perpisahan sudah terlewat. Di tempat baru, harapan muncul. Meski sisa-sisa perpisahan masih terasa.

Kami sempat mendokumentasikan hari keberangkatan kami dari Medan menuju Jakarta. Kepergian yang bukan hanya untuk sementara. Meninggalkan Medan (dan segala yang melekat di dalamnya) yang bukan hanya untuk sejenak.

Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan bagi kami untuk menyelesaikan urusan kami di Medan sebelum meninggalkannya. Melalui sanak kerabat dan sahabat terbaik, jalan kemudahan itu kami rasakan. Rumah kontrakan ada yang melanjutkan, sepeda motor ada yang membeli, juga aset-aset lainnya ada yang melanjutkan hak kepemilikan, ada yang memanfaatkan.

Dalam perenungan, saya teringat nasehat dari orang bijak. Ada beberapa jenis manusia, seperti halnya hukum fikih. Manusia wajib, manusia sunah, manusia mubah, manusia makruh, dan manusia haram. Dua yang pertama keberadaannya sangat diharapkan, ketiadaannya disayangkan. Dua yang terakhir keberadaannya tidak diharapkan, ketiadaannya disyukuri. Manusia mubah, ada dan tiadanya tak berarti.

Maka perpisahan dengan sanak kerabat di Medan beberapa waktu yang lalu, menjadi cermin bagi saya. Bagaimana reaksi mereka ketika kami pamit dari Medan, memberikan sedikit gambaran, saya  dan istri, termasuk manusia yang mana.

Banyak kawan yang merasa kehilangan, mereka mengungkapkan secara langsung, ada yang menyampaikan di media sosial. Ada yang sampai menangis. Ada yang kuat menahan air mata, menguatkan hati. Sejujurnya, saya pun juga merasa kehilangan, merasa berat untuk menjalani perpisahan.

Kawan-kawan bersedih, saya juga bersedih. Namun di antara kesedihan itu, terselip rasa bahagia. Bahagia melihat kawan-kawan saya bersedih. Dari sudut pandang ini, saya merasa bahagia. Ya, ternyata tidak semua bahagia melihat orang lain bersedih itu merupakan hal yang buruk.

Manusia wajib dan manusia sunah, kepergiannya tidak diharapkan. Maka, kesedihan kawan-kawan saya semoga menjadi indikasi bahwa kami tergolong manusia wajib, minimal sunah. Manusia yang keberadaannya diharapkan, kebermanfaatannya dirasakan.

Semoga hal itu juga pertanda kami bisa khusnul khatimah di kota Medan. Semoga di kota-kota berikutnya, di langkah-langkah kehidupan berikutnya, hingga di ujung kehidupan di dunia ini, kami bisa khusnul khatimah.

Semoga..

 

 

Jakarta, 12 Okt 2016

pamit

 

Iklan

2 comments on “Bahagia Melihat Orang Lain Bersedih

  1. Ulfa
    24 Oktober 2016

    Aku sampai iri lho sama kalian berdua. Andai saja yg dpat mutasi suami. Mungkinkah ada orang yang bersedih kaya kalian berdua. Hiks… Sedih ak.
    Sedihnya bukan kpeindahan kalian hahahah. Tapi sedih kalau g ada yg merasa kehilangan kami saat dpat mutasi.

  2. Ikrom Zain
    21 Desember 2016

    Terharu bacanya
    Sukses ya mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 Oktober 2016 by in kisahkami, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: