.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Hilangkan Pola Pikir Pecundang

Muhasabah Akbar Muharram 1438 H

Muhasabah Akbar Muharram 1438 H

 

#Catatan Muhasabah Akbar di Masjid Ukhuwah Islamiyah
Saya mau berbagi catatan di hape saya saat acara Muhasabah Akbar di UI kemarin dengan pemateri Bang Dr. Arief Munandar, S.E., M.E.

==
“Kaburo maktan, dia yg mengatakan tetapi tidak melakukan”

Ya ayyuhallazi naamanu lima takulu malatafalun. Kaburo maktan indalloh an’takulu malataf alun.” Yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
(Al-Quran surat Ash-Shaff ayat ke:2-3)

Kita terlalu banyak mengkritik, tanpa aksi. Di Indonesia banyak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, banyak orang pintar, alhamdulillah. Orang-orang pintar salah satu kompetensinya adalah berdiskusi. Bahayanya adalah mereka terlalu asik mengomentari, tanpa berbuat.

Kita terlalu banyak pengamat dakwah ketimbang pelaku dakwah, terlalu banyak pengkritik perjuangan daripada pelaku perjuangan itu sendiri.

“Bekerjalah, Allah dan Rasulullah serta orang-orang mukmin menyaksikan pekerjaanmu itu ” (QS.At Taubah : 105)

Pemimpin itu berbuat, bekerja, menginspirasi. Tidak menunggu disuruh. Terlalu banyak orang yg menunggu, berharap, berpangku tangan.

Cerita tentang orang yang mengajak untuk merapikan sandal, tak ada yg menanggapi, dia bergerak sendiri, akhirnya kawan2 yg lain mengikuti.

Tidak kurban? Alasannya biasanya : belum ada rejeki, belum berpenghasilan. Nah, apabila sejak tgl 14 Dzulhijjah tidak mulai menabung, yakinlah tahun depan tetap belum juga bisa kurban.

Di metro tv : seorang ibu memiliki anak defabel, dg penghasilan 15rb / hari, setiap tahun kurban. Hobinya adalah berkurban. Betapa besar kekuatan niat utk beramal

Problematika umat ini, terlalu banyak di antara kita yang bicara, memberi tausiah, mengamati, ketimbang berbuat.

Utk terlepas dari permasalahan umat adalah kita harus bersih dari cara pikir orang2 yang kalah, cara pikir para pecundang.

Salah satu cara pikir pecundang adalah kita sering mempertentangkan sesuatu yang tidak perlu dipertentangkan, sesuatu yang seharusnya bisa dikolaborasikan.

Contoh : berinfak itu boleh yang penting ikhlas. Ikhlas menjadi tembok pelindung, kambing hitam, dari amal yang sedikit, karena ikhlas tidak terlihat, tidak terukur.

Kenapa acara kebaikan mabit, tabligh akbar, banyak yang defisit? Karena umat islam suka yang gratis !! Infaknya isinya cuma 2000, 1000, dikiranya panitia tukang parkir? Ya, karena tertanam bahwa infak sedikit gapapa asal ikhlas

Kenapa kualitas dan kuantitas dibenturkan ??

Rasulullah sering menghabiskan hartanya untuk berinfak. Umar menyedekahkan kebun kurma ketika ketinggal solat. Abu bakar menyedekahkan seluruh hartanya untuk jihad.

Jadi adalah sesat mengatakan infak sedikit asal ikhlas, yang benar INFAK YG BANYAK DAN IKHLAS! Amal yang berkualitas dan berkuantitas.

Allah akan memberi apa yang kita butuhkan. Yakin? Maka berinfaklah yang banyak, Allah akan mencukupkan. Beramallah yang banyak, Allah akan memberikan kekuatan kita untuk beramal yang banyak.

Kita sering membenturkan yang tidak perlu dibenturkan : kualitas dg kuantitas, amal dengan keikhlasan, agama dg politik.

Lagi, pola pikir pecundang : menyalahkan keadaan. Padahal setiap keadaan adalah karena  ulah kita sendiri.

Kaum muslim hobinya menggunakan teori konspirasi. “Yahudi Nasrani tidak akan rela” (QS.AlBaqarah:120). Ayat itu benar. Tp itu menjadi alasan paling mudah untuk ngeles, untuk tidak mengevaluasi.

Hobinya menyalahkan , seperti anak kecil. Badu dan Budi, anak kecil, yang bertengkar, ketika ditanya oleh orang tuanya. Masing-masing menyalahkan yang lain. Mereka anak kecil. Betul, tua adalah kepastian sementara dewasa adalah pilihan.

Anak2 berkelahi bilang “karena dia nakal”. Kita, “karena konspirasi, karena yahudi”. Jarang kita mengatakan : “karena saya salah mengambil keputusan, karena saya kurang beramal, dll”.

Berikutnya yang perlu dihilangkan adalah “Meremehkan Sesuatu yang Kecil

Jangan remehkan amalan sekecil apapun. Karena kita tidak tahu, amalan yang mana yang menurunkan Ridho Allah.

Jangan sampai amalan yang besar membangun peradaban, menjadi hancur, karena ada saudara yang tersakiti oleh kata2 kita. Jangan sampai kerja dakwah yang besar , menjadi hancur, karena orang tua merasa terabaikan.

Pola pikir pecundang yang perlu dihilangkan : Mempertentangkan, menyalahakan, meremehkan.

**

Penutup, buka al Anfal ayat 40. “… Mastatho’tum” . Siapkanlah untuk menghadapi mereka (orang2 kafir) kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, .. dst..

Allah memerintahkan kepada kita untuk menyiapkan semuaaaa kekuatan yang kita miliki. Resolusi : setiap kita yang masih memiliki iman dalam dada, harus memastikan menyiapkan terbaik di bidangnya untuk menegakkan izzah islam.

Kalo kita tidak mampu menggetarkan musuh-musuh Allah dengan apa yang kita miliki, iman kita dipertanyakan !!

 

dirangkum oleh Ridwan Kharis
peserta Muhasabah Akbar 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 Oktober 2016 by in hikmah, ngaji yuk.

Navigasi

%d blogger menyukai ini: