.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Sandal 

Malam tahun baru kemarin, saya dan Uki ikut acara Mabit di Masjid Daarut Tauhiid Jakarta. Paginya ketika kami akan pulang, Uki menyadari kalau sandal yang digunakannya tidak ada. Dicarinya ke berbagai tempat, tidak ada. Hilang. Uki membawa sandal dari rumah yang mana ada tanda lingkaran di tengahnya. Bapak selalu memberi tanda di sandal-sandalnya agar tidak tertukar.

Sebenarnya ada sandal yang mirip, hanya saja tidak ada tanda bikinan Bapak disitu. Maka kami simpulkan kemungkinan besar adalah tertukar. Ada orang lain yang memakai sandal Uki. Sempat ada keinginan untuk mengambil sandal tersebut, tetapi saya bilang agar pulang nyeker (telanjang kaki) saja. Kesimpulan kami adalah kemungkinan, jika orang lain salah ambil, kemudian kami juga ikut salah ambil, maka bisa semakin banyak orang yang salah ambil. Bisa-bisa malah muncul kesimpulan yang lebih ngeri : Hati-hati ke Masjid, sandal rawan hilang.

Kami kembali ke rumah (baca : kosan) saya, dengan kondisi Uki tidak memakai alas kaki.

**

Kemudian pikiran saya mengeksplore sandal-sandal yang pernah muncul dalam kehidupan saya.

Menyambung Sandal Putus

Sangat teringat dalam ingatan saya bahwa pada saat saya masih kecil, Bapak memiliki kebiasaan menyambung sandal yang putus jepitannya. Caranya adalah dengan meletakkan batang korek api di pintu atau lemari, lalu menyalakannya. Kemudian kedua ujung jepitan sandal yang putus dipanasi hingga hampir meleleh. Sebelum kering langsung ditempel dan ditekan.

Dari situ saya belajar agar tidak mudah menyerah untuk mengfungsikan suatu barang, tidak mudah menyimpulkan bahwa suatu barang rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Bapak lah seorang insinyur idola pertama saya, yang kelak di kemudian membuat saya memilih kuliah di Teknik Mesin. Pak Habibi masih di urutan insinyur idola berikutnya.

Sandal untuk ke Masjid

Tempat yang orang paling banyak melepas sandal adalah masjid. Bapak sering berpesan, ke masjid gunakan sandal jepit saja, jangan yang bagus-bagus. Toh sandal tidak masuk masjid, beda dengan baju, sarung atau peci. Kalau bagus-bagus, nanti solat jadi tidak konsentrasi karena khawatir sandal hilang.

Selain diberi tanda oleh Bapak, seperti yang sudah saya ceritakan di awal, sandal juga usahakan agar diletakkan di tempat yang tidak panas dan agak terpisah dengan sandal-sandal lain agar tidak cepat rusak dan tidak susah mencarinya.

Sandal Bandol

Bandol adalah istilah yang dibuat Bapak saya untuk sandal yang terlihat seperti terbuat dari Ban Bodol (ban rusak). Tidak seluruhnya terbuat dari ban bodol sih, levelnya lebih tinggi sedikit dari sandal jepit biasa. Tapi masih jauh dibanding dengan sandal bermerk lainnya. Merk tetap punya, tapi ya plesetan dari yang asli. Bukan Carvil, tapi Carwil. Haha

Betewe, ada salah satu sandal bandol yang saya gunakan sejak saya kuliah. Saya gunakan mendaki gunung, menjelajahi pulau-pulau, memasuki ruang seminar, mengantarkan ke masjid. Sampai kawan-kawan saya hafal. Berkali-kali putus dan berkali-kali pula dibawa ke tukang sol untuk dijahit. Baru beberapa bulan terakhir saya pensiunkan, karena kondisinya cukup mengenaskan.

Sandal Warisan Almarhum

Sewaktu saya pertama tugas di Medan, ada pegawai senior namanya Pak Parwoto. Beberapa bulan berikutnya,beliau meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sandal jepit peninggalan beliau sering saya gunakan untuk salat ke Masjid. Ada tanda beruppa huruf “P”. P for Parwoto. Ada teman yang nanya “ga takut wan, pake sandal orang yang sudah meninggal?”. Saya jawab, ini bentuk saya menghormati almarhum, semoga tiap langkah saya ke masjid ada pahala yang menjadi pemberat amal kebaikan almarhum. Selama saya tugas di Medan, sandal itu rutin saya gunakan untuk ke masjid.

Pengamat Sandal

Lama-lama saya jadi pengamat sandal. Saya tertarik ketika melihat sandal berjajar rapi di Daarut Tauhid, melihat sandal khusus untuk masjid, sandal kekecilan yang dimodifikasi. Ketertarikan itu saya salurkan dengan saya posting di Instagram.

Sandal memang barang sepele. Jarang yang memperhatikan, mungkin karena letaknya di bawah, diinjak-injak, sering bersentuhan dengan tanah yang tak jarang ada kotorannya. Tetapi ketika hilang, baru kebingungan, baru dicari. Sandal memang barang sepele, melalu perantara itu, kita tahu Bilal bin Rabbah mendapatkan jaminan masuk surga dari Nabi. Ya, saat isro’ mi’raj, nabi mendengar suara terompah bilal di surga.

***

Sekian hasil eksplorasi saya atas sandal-sandal yang pernah terlintas di pikiran dan kehidupan saya.

Dan.. Alhamdulillah tadi pagi saya menemukan sandal Uki yang sempat hilang. Masih di Masjid Daarut Tauhid, hanya posisinya di basement. Kalau takdirnya hilang, tak akan bisa kembali. Kalau takdirnya kembali, tak akan hilang.

Itu tak hanya berlaku untuk sandal, tapi untuk segala hal.

sandal-uki

Sandal yang hilang, kini kembali lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 3 Januari 2017 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: