.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Doa Indah

masjid-glora-bung-karno

Doa yang terbaik tentunya adalah doa yang Rasulullah ajarkan, juga doa-doa yang secara redaksional ada dalam Al Quran : doa para nabi dan manusia-manusia pilihan. Ma’tsur. Makanya ada kemudian dzikir Al Ma’tsurat pagi dan petang yang berisi doa dan dzikir yang redaksinya bersambung sampai Rasulullah.

Tetapi juga tidak ada larangan bagi kita untuk berdoa sesuai dengan hajat kita, sesuai keinginan kita. Berdoa dengan kata-kata yang kita susun. Tentunya dengan memperhatikan adab berdoa : ga pake maksa, merendahkan diri, menghinakan diri di hadapan yang Maha Kuasa, juga berhusnudzon terhadap segala ketentuan-Nya.

Saat kuliah dulu, saya pernah shalat Jumat di Masjid Kampus yang mana khotbah jumat nya sangat menggugah (pernah saya tulis di sini). Pada khotbah kedua, doa yang dibaca sangat indah. Bagaimana saya tahu? Karena sang khotib  berdoa menggunakan bahasa arab dan juga bahasa Indonesia. Saya tidak tahu doa itu mungkin terjemahan dari doa ulama terdahulu, atau darimana saya tidak tahu. Yang pasti doa itu bagi saya sangat indah. Hingga detik ini saya masih ingat betul suasana pada saat itu.

Dalam kekhusukan shalat malam, atau dalam sebuah renungan mengungat kebesaranNya, saya sering berdoa memohon sesuatu dan menggunakan doa indah tersebut. Biasanya saya lantunkan doa tersebut sebagai penutup , sebelum doa sapu jagad “rabbana atina..”. Selalu saja mata saya mengembun, membentuk bulir-bulir, lalu menetes.

Maukah engkau saya beri tahu doa indah itu?

“Ya Allah, janganlah Engkau hanya kabulkan doa para nabi yang mulia. Janganlah Engkau hanya kabulkan doa para orang-orang saleh yang begitu banyak amalnya. Tetapi juga wahai Allah, tolong juga kabulkan doa hambamu ini, meski bergelimpangan dosa, meski sering lalai mengingat-Mu….”

Sampai disini, sudah mulai mengalir air mata saya. Langsung terbayang dosa-dosa yang pernah saya perbuat.

“..karena, jika tidak kepada-Mu, kepada siapa lagi aku memanjatkan doa.”

Saya mulai sesenggukan.

Jakarta, 040117

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 4 Januari 2017 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: