.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Undangan Lek Amin

undangan-lek-amin

Sekitar 10 hari yang lalu, saya mendapatkan pesan Whatsap dari paman saya -Lek Amin-, berisi undangan syukuran Khitanan anaknya, adik sepupu saya, Dimas. Undangannya adalah hari ini, jam 1 siang. Caption untuk foto undangan itu adalah “Untuk mas Iwan dan Mbak Dhian, semoga ada waktu untuk hadir”

Seingat saya, ini adalah hajatan pertama Lek Amin sebagai orang tua. Maka ketika ibu mengungkapkan keinginannya untuk hadir dalam hajatan pertama adiknya, saya belikan ibu tiket PP Jogja Pontianak.

Istri saya juga pingin ikut ke Pontianak, menemani ibu sekaligus mewakili saya yang kemungkinan besar tidak bisa hadir karena ada jadwal tugas ke Kendari. Lalu saya belikan tiket PP Jakarta Pontianak. Jam yang sama, istri berangkat dari Jakarta, ibu dari Jogja.

Ternyata saya tidak jadi tugas dinas ke Kendari. Doa Lek Amin terkabul, saya dan istri ada waktu untuk hadir. Kemarin sore, Istri berangkat sendiri, karena tadi malam saya ada acara bareng temen-temen alumni RK. Dan sampai tadi malam saya pulang ke kosan, saya belum memutuskan akan pergi ke Pontianak atau tidak.

Ketika bangun pagi tadi, saya berpikir cepat untuk membuat keputusan. Dulu saya pernah menyesal saat di Medan karena tidak pulang menghadiri pemakaman Mbah Kakung, padahal ada kesempatan. Maka saya, tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya.

Saya berangkat ke Pontianak.

Iya, bangun tidur, saya sholat, beli tiket pesawat, pesen gojek, ke Damri Blok M, lanjut ke bandara. Urusan mruput (berangkat pagi-pagi) ke bandara bagi saya sudah biasa.

Kemudian muncul pertanyaan : Kok sepertinya ringan banget beli tiket pesawat, kayak beli kacang goreng saja. Bukannya tiket pesawat tidak semurah tiket Trans Jakarta ya? Sudah jadi hoorang kaya yak? Ciee.

Dibilang kaya, belum sih. Tapi alhamdulillah merasa berkecukupan, tidak merasa miskin. Untuk beli tiket kali ini, saya gunakan pos anggaran darurat. Semoga dengan silaturahim, bisa mencegah musibah -yg biasanya bersifat darurat-.

Uang memang bernilai, tetapi ada banyak hal berharga dalam hidup ini yang tidak ternilai dengan uang. Keluarga, Persahabatan, Ilmu, kesehatan, dan yang lainnya. Bagaimana kita memandang dan menempatkan prioritas-prioritas dalam hidup membuat kita lebih memilih yang ini daripada yang itu.

Saya pernah menghadiri pernikahan sahabat saya di Surabaya (Pram & Anin) dengan mengajak istri saya dan waktu itu dari Medan. Niat banget bukan? Karena bagi saya, itu hal tak ternilai. Sebagaimana sahabat saya tersebut dulu pulang dari Amerika langsung ke nikahan saya.

lek-amin-terharu

Maka semoga kedatangan saya ini bisa melengkapi kebahagiaan Lek Amin sekeluarga. Terlebih Dimas yang kata Lek Amin waktu telponan kemarin, katanya kangen pengin ketemu saya. 

Yeaah, banyak yang kangen saya ternyata.

Setibanya di lokasi, Dimas kaget, Lek Amin terharu. Kedatangan saya memang tidak saya beritahukan kepada Lek Amin sebelumnya. Hadiah berharga jika diberikan dengan cara tak terduga memang memberikan efek yang berbeda. 

khitanan-dimas

Di atas langit Laut Jawa
08 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Januari 2017 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: