.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Keluargaku Keluargamu

alun-alun-kapuas

Kami sama-sama paham bahwa menikah tidak hanya membentuk ikatan antara dua manusia, tetapi juga dua keluarga. Setidaknya, antara saya dengan keluarga istri saya dan juga antara istri saya dengan keluarga saya.

“Orang tuaku menjadi orang tuamu. Adik kakakku menjadi adik kakakmu. Kakek nenekku menjadi kakek nenekmu. Paklek bulekku menjadi paklek bulekmu”. Itu berlaku bagi saya sekaligus juga bagi istri saya.

Namun bagaimanapun, saya tidak akan pernah bisa menyamai istri saya dalam hal memperlakukan keluarganya. Kedekatan emosi tentulah berbeda. Kadar kasih sayang yang telah tumbuh sejak kecil tentu berbeda dengan yang bahkan baru saja kenal.

Maka yang saya lakukan adalah mencoba mengimbangi bagaimana istri memperlakukan keluarganya. Terhadap yang keluarga yang memiliki hubungan yang kuat, saya berusaha mengimbangi. Yang sepertinya spesial, saya ikut memperlakukan secara spesial.

Alhamdulillah, istri saya juga berusaha melakukan hal tersebut. Betapa bahagianya saya. Dalam beberapa case malah saya kalah dari istri saya. Jalil misalnya, ponakan saya justru lebih kangen buleknya dibanding omnya. Hiks.

Waktu kami menikah, Lek Amin tidak bisa hadir karena sebuah urusan. Terapi terhadap Lek Amin, istri saya sudah akrab. Ngobrolnya nyambung. Kadang telponan atau berkirim pesan untuk bertanya kabar. Disini kadang saya juga merasa kalah.

Kedatangan istri saya ikut memenuhi undangan Lek Amin merupakan kali pertama dia ketemu Lek Yus -istri lek Amin-, dan adik-adik sepupu saya : Salsa dan Dimas. Dan lagi-lagi dia sukses memposisikan diri.

“Mbak Dhian asyik orangnya, ngobrol sama Salsa nyambung. Kayak ngobrol sama kakak kelas” Salsa bercerita padahal saya ga nanya sebelumnya. Okai, istri saya menang banyak.

Memperlakukan keluarga pasangan sebagaimana memperlakukan keluarga sendiri tentunya bukan hal yang mudah. Butuh usaha, butuh kesabaran, juga butuh masukan dari pasangan. Peran pasangan tentulah sangat penting, dialah sang perantara, dia yang lebih tahu bagaimana karakter keluarganya.

Dulu waktu awal-awal, Istri saya sempat ribut dengan adik saya, Uki. Uki suka ngledek, tapi dibawa perasaan sama istri saya. Posisi saya harus segera mendamaikan dua orang yang sangat saya cintai ini.

Kepada Istri saya saya katakan, “Uki bersikap begitu, sampai mau ngledek-ngledek gitu, itu karena dia sudah menganggap mbak sendiri. Kepada adik saya saya katakan, “Mbak Dhian itu bukan Mas yang udah paham gaya gurauannya Uki. Tolong dijaga ya perasaannya. Minta maaf sanah”. Sekarang istri saya dan Uki sudah saling memahami karakternya masing-masing.

Kesimpulannya adalah bahwa proses mengenal keluarga pasangan dan memperbaiki diri dalam bersikap merupakan hal yang harus terus menerus kita lakukan. Semoga kita diberi kemudahan.

Pontianak,
09 Januari 2016
23:57

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Januari 2017 by in kisahkami, sepotong episode, serial keluarga.
%d blogger menyukai ini: