.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Mendaftar Haji

Kali ini saya akan menuliskan sesuatu yang saya menahan diri untuk menuliskannya, sejak 2 tahun yang lalu. Bagi saya, untuk menuliskan hal ini harus mengkondisikan hati. Karena meski niatnya untuk berbagi informasi atau inspirasi, tidak jarang rasa ujub atau riya’ mengkontaminasi.

Bismillaah..

Baiklah, inti dari cerita saya adalah bahwa saya sudah mendaftar haji, 2 tahun yang lalu.

***

Setiap orang memiliki pertimbangan dalam memutuskan sesuatu, terutama yang baginya adalah untuk perkara besar dalam hidup. Memutuskan untuk kuliah dimana dengan jurusan apa. Memutuskan untuk menikah : kapan, dengan siapa, bagaimana prosesnya. Memutuskan bekerja dimana, sebagai apa. Juga memutuskan membelanjakan uang.

Alhamdulillah, saya waktu itu sudah lulus kuliah di Teknik Mesin UGM, sudah menikah dengan Dhian Nurma, juga sudah bekerja di PLN. Saya mulai memiliki penghasilan. Juga memiliki berbagai kebutuhan rutin yang harus dipenuhi. Terlebih sebagai kepala keluarga, sandang papan pangan adalah keharusan. Harus dipenuhi.

Bagaimana seseorang memandang pentingnya suatu perkara, sangat mempengarui bagaimana dia meletakkan perkara tersebut dalam prioritas hidup. Setelah mulai berpenghasilan, saya menempatkan mendaftar haji menjadi prioritas yang utama untuk dilakukan. Sementara sebagian teman sudah mulai mencicil rumah atau mobil, saya masih menabung untuk mendaftar haji untuk dua orang : saya dan istri.

Tempat tinggal memang perlu, tapi memilikinya tidak menjadi yang utama karena mengontrakpun masih bisa. Mobil belum perlu, motorpun tidak harus membeli yang baru. Lebih-lebih ojek online atau taksi online lebih mudah, murah dan nyaman pelayanannya.

Demi mengikhtiarkan mendaftar haji, kami sampai pindah kependudukan, membuat KTP sebagai warga kota Medan. Selain karena saat itu kami tinggal di Medan, ternyata keberangkatan dari Medan jauh lebih cepat dibanding dari Jawa. Selisihnya antara 5-7 tahun. Lumayan. Untuk melihat perkiraan keberangkatan kota di Indonesia bisa klik disini.

Hingga kemudian setelah uang terkumpul 50 juta, kami mendaftar haji. Untuk mendaftar haji, satu orang cukup menyetorkan 25 juta, sisanya dilunasi pada tahun keberangkatan. Prosesnya tidak rumit, tinggal datang ke Kantor Kementrian Agama Kota/Kabupaten, lalu mengumpulkan dokumen ini dan itu, sesuai prosedur yang ada (klik disini).

Setelah selesai melakukan pendaftaran, kita akan mendapatkan nomor Porsi. Dengan nomor porsi inilah, kita bisa memantau melalui website resemi Kementrian Agama RI mengenai perkiraan keberangkatan. Jika ada penambahan kuota, tidak menutup kemungkinan, tahun keberangkatan akan maju.

Saya mendaftar haji di Medan, apabila pada saat tahun keberangkatan domisili saya sudah di Jawa Tengah misalkan, apakah bisa terbang dari Jawa Tengah, atau harus dari Medan? Saudara saya ada yang mendaftar haji di Palembang, tetapi bisa pindah keberangkatan dari Jawa Tengah sesuai tahun keberangkatan Palembang. Harus diurus di Jakarta, mungkin agak repot tetapi berdasarkan pengalaman Saudara saya tersebut bisa. Nanti jelang tahun keberangkatan baru saya urus, kalaupun harus berangkat dari Medan, juga bukan sebuah masalah besar. Yang penting sudah mendaftar.

Setidaknya dengan sudah mendaftar haji, hati terasa tenang. Kalaupun belum sampai berangkat haji tetapi meninggal terlebih dahulu, InsyaAllah sudah mendapatkan pahala haji. Jika kemudian ingin berangkat Umroh, setidaknya sudah mendahulukan mendaftar Haji. Yang merupakan rukun islam adalah haji, bukan umroh. Maka, jika ingin umroh tetapi belum mendaftar haji, saran saya mending untuk mendaftar haji terlebih dahulu.

Melalui postingan ini, saya mengajak pembaca yang sudah sudah mampu untuk segeralah mendaftar haji. Semakin lama pasti antrian akan semakin banyak. Tidak lagi bersifat linear, tetapi eksponensial. Maksudnya, jika waktu tunggu tahun ini 15 tahun, lima tahun lagi bisa jadi waktu tunggunya sudah 20 tahun.

Padahal menunaikan ibadah haji membutuhkan fisik yang kuat. Jika sekarang berusia 25 tahun dan daftar tunggu 20 tahun artinya berangkat pada usia 45 tahun. Maka bisa dipikirkan lagi dan direncanakan lagi, bahwa kita tinggal di Indonesia dan untuk berangkat haji harus antri. Kecuali jika ada rencana mau berangkat dari luar negeri atau pakai Haji  plus, itu beda lagi.

Haji memang hanya bagi yang mampu. Artinya, hal tersebut seharusnya menjadi penyemangat untuk memampukan diri. Bukan menjadi alibi bahwa sedang memiliki banyak kebutuhan dan menggunakan alasan belum mampu untuk tidak melakukan ikhtiar maksimal.

Labbaikallahumma labbaik…

Semoga Allah menguatkan iman kita, melapangkan rejeki kita, menyehatkan fisik kita, agar kita bisa menjalankan semua rukun islam yang lima.

 

 

 

Jakarta, 17-07-17

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17 Juli 2017 by in hikmah, kisahkami, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: