.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Kekuatan Pujian

Saat kecil, saya sering mendapatkan pujian. Paling banyak tentu dari Ibu dan Bapak saya. Saya dibilangnya anak yang pintar, yang ganteng, yang cerdas, yang soleh, dan berbagai pujian tulus lainnya. Begitu pula ketika sekolah, sesekali guru-guru saya ataupun teman-teman saya memberikan pujian, meski tidak sepenuhnya berupa pujian karena diikuti dengan tapi, sayangnya, atau hanya saja.

“Kamu ini cerdas, tapi sedikit agak malas”, atau “ … sayangnya kamu sering ceroboh”

“Kamu ini pintar, hanya saja tulisannya susah dibaca”

Terhadap komentar terakhir, saya jawab dengan kelakar : “Jangankan kamu, saya saja kesulitan membaca tulisan saya sendiri!”

Tak penting bagian agak malas, sering ceroboh, atau tulisan yang susah dibaca. Hampir-hampir saya tak pernah mendengarnya. Yang saya ingat bahwa guru saya dan juga teman saya mengakui kalau saya adalah anak yang cerdas. Hingga kemudian pujian-pujian itu menjelma menjadi energi dalam hidup saya dan memotivasi alam bawah sadar saya, hingga hari ini.

Saya tidak peduli pujian itu merupakan kenyataan atau bukan, yang pasti kemudian hal itu membuat saya percaya. Saya mempercayai bahwa saya saya adalah anak yang cerdas dan pintar. Awalnya mungkin hanya perasaan sok cerdas atau sok pintar, tetapi kemudian saya menuju kepadanya. Setiap kali merasa bodoh dan kecil hati, saya bayangkan wajah Ibu Bapak saya, guru-guru saya atau teman-teman saya itu.

Begitu pula suatu ketika ada kawan yang baru saja mengkepo sosmed saya lalu membaca tulisan-tulisan saya di IG maupun di Blog. Dia berkomentar dengan mengatakannya langsung kepada saya,“tulisan kamu kok bisa seasyik itu, sederhana, tetapi mengena. Ajarin aku nulis dong”.

Meski secara kualitas, sebenarnya tulisan saya masih cetek, tetapi pengakuan dari kawan saya itu memberikan energi kepada saya untuk terus memperbaiki dan memproduksi tulisan. Minimal, ketika kemudian saya menerbitkan sebuah buku, sudah ada yang siap membelinya, meski hanya segelintir orang.

**

Dan jika ada manusia, yang pada 3 tahun terakhir ini, paling sering memberikan saya pujian dan menjadi energi untuk menjadi orang baik, dia adalah istri saya.

“Mamas tuh orangnya asyik, suka membantu orang lain, makanya banyak yang suka sama Mamas”

“Kebaikan yang ada di Bapak, suka silaturahmi menurun di Mamas. Kebaikan yang ada di Ibu yang ringan tangan juga menurun di Mamas”

“Terimakasih, sudah menjadi suami yang baik”

Dan segenap pujian lainnya yang cukuplah saya konsumsi sendiri.

Istri saya, sebagaimana wanita pada umumnya, tiap harinya memang banyak memproduksi kata-kata (betapa butuh tenaga ekstra untuk memperhalus kata cerewet). Isinya beragam, mulai dari keluhan, omelan, curhatan, hingga pujian. Semuanya merupakan nutrisi, dan ternyata yang paling tinggi kandungannya adalah pujian. Pujian darinya ibarat pupuk yang menumbuhkan saya, menjadi energi bagi saya untuk menjadi orang yang asyik, lebih suka membantu orang, dan juga menjadi suami yang baik.

**

Manusia memang perlu disiram pujian, tetapi segala hal yang berlebihan tidaklah baik. Sebagaimana tanaman yang terlalu banyak disiram air juga akan mati. Segala jenis bentuk pujian harus dikembalikan kepada Allah. Segala puji hanya bagi Nya. Maka, setiap kali mendapatkan pujian, wajib mengucapkan alhamdulillah.

Bukankah, dalam Al Quran, manusia dipuji sebagai “Ahsani taqwim”, juga dinobatkan sebagai wakil Tuhan untuk memakmurkan bumi. Bagi orang beriman disebutkan “Kuntum Khoira Ummah”, Kalian adalah Umat terbaik yang diturunkan untuk manusia. Jika pujian dari manusia saja memberikan energi yang begitu kuat, maka pujian dari Tuhan sudah seharusnya lebih dari cukup dibanding pujian dari seluruh manusia sekalipun.

Kesimpulannya adalah, bahwa sepanjang hidup, saya mendapatkan banyak kekuatan dari pujian. Saya ucapkan terimakasih dan saya doakan kebaikan kepada mereka yang pernah memuji saya. Alhamdulillaah. Oi, ini bukan berarti kemudian saya berharap agar mendapatkan pujian. Bukaan.

Bahwa ternyata, banyak kehidupan ini berubah hanya dengan beberapa kata. Kalau begitu, kenapa kita tidak sering menyumbangkan kata-kata itu kepada orang-orang di sekitar kita?

 

Jakarta, 23 Ags 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 Agustus 2017 by in hikmah, serial keluarga.
%d blogger menyukai ini: